Karena Rupiah Bukanlah Segalanya

Kehidupan makin hedonis. Semuanya diukur dengan uang. UUD pun berlaku, ujung-ujungnya duit. Tapi di sebagian tempat masih ada orang-orang yang dalam menjalankan profesinya meyakini suatu nilai yang tidak bisa diukur dengan uang, jauh diatas uang. Itu salah satu yang membuat Saya cinta dengan Yogyakarta. Sudah cukuplah berbagai referensi wisata dan budaya tentang kota ini yang memanjakan semua panca indra. Tapi bagaimana dengan memanjakan hati? Di kota budaya ini juga Saya bisa dengan mudah menemukan orang-orang luar biasa itu, yang tidak menjadikan rupiah sebagai tujuan nomor satu.

Yang paling sering Saya jumpai adalah para penjual masakan seperi bakmi jawa atau nasi goreng. Mereka setia mempertahankan tradisi dengan tetap menggunakan cara-cara lama agar masakan mereka selalu bercita rasa. Walaupun itu berarti membutuhkan tenaga dan waktu lebih. Jangan heran jika Anda bisa menemukan masakan yang enak meskipun hanya dari sebuah warung kecil di pinggir jalan namun dengan harga yang tetap murah. Sebelumnya Saya juga menemukan sebuah warung angkringan di salah satu sudut kota pelajar ini yang pemiliknya memutuskan untuk mencabut fasilitas wifi gratis di tempat usahanya itu karena ia merasa kehilangan suasana ramai dan akrab yang selama ini menjadi aura dan ciri khas angkringan. Padahal selama enam bulan ia memasang wifi pengunjungnya meningkat dan omsetnya ikut bertambah. Namun ternyata para pengunjungnya malah lebih asyik dengan gadgetnya untuk berinternet gratis daripada bersosialisasi. Selain itu pengunjungnya juga jadi kurang beragam, yaitu kebanyakan anak muda.

Kali ini Saya beruntung bertemu dengan mbah Riyem (70 tahun) dan mbah Harti (50 tahun), penjual bunga tabur untuk ziarah kubur. Mereka hanyalah sebagian dari beberapa penjual bunga tabur yang berjual berderet di dekat pasar Sentul, Pakualaman. Mereka berdua sudah menjalani profesinya sejak masih muda. Sekeranjang bunga tabur ukuran sedang yang terdiri dari potongan bunga mawar dan melati mereka jual seharga Rp 10.000,-. Sangat murah. Saya sempat bertanya-tanya apakah dari penghasilan mereka sebagai penjual bunga tabur itu cukup untuk menghidupi mereka, bahkan mungkin keluarganya, apalagi usaha bunga tabur itu sifatnya musiman. Ketika Saya menanyakan kepada mbah Riyem jawabannya “Menawi namung mikir yatra mawon mesti boten cekap. Mending kulo milih dados petani nopo dodolan wonten pasar kawit riyin, mas” (Kalau hanya berpikir tentang uang pasti tidak cukup. Lebih baik Saya pilih jadi petani atau berjualan di pasar dari dulu, mas)

Lalu kenapa mereka tetap bertahan jadi penjual bunga tabur? Jawabannya sederhana, mereka merasa didoakan. Mereka percaya bahwa ketika orang-orang berziarah kubur dengan menaburkan bunga lalu berdoa untuk yang dikuburkan, mereka juga merasa ikut didoakan. Bukankah ketika orang berziarah kubur pasti berdoa yang baik? Dan melalui bunga tabur itulah terjalin benang merah doa itu. Mbah Riyem, mbah Harti, dan mungkin teman-teman penjual bunga yang lain hanya ingin banyak orang yang mendoakan karena manusia tidak pernah tahu dari mulut siapa suatu doa akan terkabul. Pemikiran sederhana tapi dengan makna luar biasa. Sebuah jawaban yang tak pernah terlintas di benak Saya. Dan nyatanya sampai sekarang mereka tetap bisa berjualan dan dicukupkan untuk menghidupi keluarganya.

Orang-orang luar biasa seperti ini mungkin tampak biasa saja, bahkan ada yang beberapa mungkin hadir di keseharian kita. Namun hal-hal sederhana dari mereka telah menghadirkan inspirasi dan edukasi bagi kita yang dalam keseharian disibukkan dengan berbagai aktifitas yang perlahan mengikis jiwa kemanusiaan kita. Mereka yang mungkin terpinggirkan dari kesadaran kita, dengan prinsip utamanya yaitu tidak menjadikan materi sebagai tujuan utama ternyata mampu memberikan pencerahan. Kuncinya hanyalah peduli dan mau untuk sejenak menyisihkan sedikit waktu untuk turun ke tempat-tempat yang selama ini tak pernah terbayang sebelumnya. Disanalah kita bisa menemukan orang-orang kecil yang berhati besar yang mungkin dari sanalah muncul benih-benih tumbuhan solusi bagi perbaikan negeri Indonesia yang sedang sakit ini.

Indonesian-based photographer and story teller
2 comments
  1. wah, postingannya sangat menginspirasi nih :”)

    1. Terima kasih sdh berkunjung. Iya, sbnrnya msh bnyk orang2 spt mereka disekitar kita. Sayangnya kita yg kadang kurang peka

What's on your mind