Indonesia, We Need More Good News

Ketika Saya menulis draft tulisan ini, jam 7.30 tanggal 2 Mei 2013, perasaan Saya campur aduk. Sedih, gelisah, jengkel, muak, marah, benci, kecewa, bosan, prihatin. Semua energi negatif sukses menenggelamkan semangat pagi hari ini. Sebenarnya semuanya adalah titik kulminasi dari peristiwa yang Saya alami terus menerus hampir tiap hari beberapa tahun terakhir.

Beberapa menit yang lalu Saya sedang makan pagi di kantin kantor sambil melihat acara televisi yang kebetulan menayangkan berita pagi. Secara berurutan berita-berita menyedihkan ditayangkan. Kasus korupsi, perilaku arogan aparat, demo rusuh, anak SMP yang jadi germo, pemerkosaan dalam angkot, harga kebutuhan pokok melambung, pengungsi bencana yang terlantar sampai presiden yang curhat. It all happens in one country. You know which country is. My appetite has disappeared. Nasi bungkus yang masih sisa beberapa sendok lagi tak habis. Saya terlanjur muak dan rasanya ingin muntah.

Penderitaan belum berakhir. Berita sejenis muncul di koran, media online, bahkan beberapa teman ikut-ikutan posting link atau sekedar pasang status yang berhubungan dengan suatu berita negatif di akun social media atau grup pertemanan. Lengkap sudah. Media-media mainstream telah sukses mencekoki dan mencuci otak kita dengan energi negatif. Sekalinya ada berita baik itu hanya sekedar menjadi penghias belaka, (nyaris) tak pernah jadi headline.

Sudahkah berakhir?Ternyata belum. Perhatikan acara-acara yang tayang di stasiun lokal pada jam prime time malam hari. Sinetron seputar harta, tahta, wanita dan air mata sanggup membuat kaum ibu betah berlama-lama di depan televisi dan bukannya melayani atau mengasuh keluarganya. Yang membuat prihatin, mereka malah mengajak turut serta buah hatinya menonton. Tak heran, pernah beberapa waktu lalu ada berita tentang anak kelas empat SD membunuh teman sekelasnya demi sebuah handphone dengan cara meracuni makanannya. Terinspirasi sinetron, begitu kata si bocah. Saya tidak tahu dengan Anda, tapi semua proporsi berita dan tayangan hiburan yang tak seimbang ini sudah mampu membuat Saya terserang gejala awal penyakit apatis pada tanah kelahiran sendiri.

Saya masih bisa sedikit bersyukur di kos yang Saya tinggali tiga tahun terakhir ini menyediakan fasilitas televisi kabel bagi penghuninya. Tayangan kanal televisi luar negeri seperti BBC Knowledge, National Geographic, History Channel, AXN dan sejenisnya seolah menjadi oase tersendiri. Tapi sayangnya tak banyak ruangan di rumah para keluarga Indonesia yang mendapat kemewahan ini. Saya juga bersyukur ada portal berita goodnewsfromindonesia.org yang sekarang menemani sarapan Saya tiap pagi. Tapi tidak semua orang punya akses internet dengan mudah dan tahu situs berita ini.

Saya sebenarnya tak berniat mempublikasikan tulisan curhat Saya ini. Karena itu artinya Saya juga ikut menuangkan bensin ke kobaran api apatis. Lagipula Saya tak mau dicap sebagai tukang keluh, seperti salah seorang pemimpin negeri ini yang punya sambilan sebagai penyanyi, atau sebaliknya? Prinsip Saya, mengeluh atau mengutuk keadaan tidak akan mengubah apapun. Lebih baik pergunakan energi dan pikiran untuk mencari solusi dan langsung beraksi (big thanks Mr Anies Baswedan for the inspiring quotes). Well, Saya sendiri tidak mau munafik. Ya Saya masih suka mengeluh. Tapi setidaknya kalau terpaksa mengeluh, Saya berusaha cukup dalam hati saja. Pada akhirnya Saya beranikan untuk mempublikasikan tulisan ini lebih untuk himbauan atau ajakan pada teman-teman semua yang akan Saya sampaikan pada bagian akhir artikel ini.

The big question is, seburuk itukah Indonesia? Tidak adakah lagi hal baik tentang negeri ini? Tidak! Saya yakin masih ada sesuatu positif di luar sana, di Indonesia. Permasalahannya ya itu tadi. Media mainstream kita menganut paham “bad news is good news. bad story is great story”. Kurang lezat? Tambahkan berbagai acara talkshow yang hanya berisi wacana belaka, bualan kosong, debat kusir tiada akhir, kalau perlu sampai peristiwa menyiram air minum sebagai bumbu penyedap. Dan jangan lupakan juga sebuah rahasia umum, berbagai berita yang berlalu-lalang setiap hari itu bisa dipesan sesuai kebutuhan si empunya kepentingan sebagai sarana pengalihan isu di tengah masyarakat. Begitu epiknya pemerintah kita sibuk untuk tidak sibuk mengurus rakyatnya, para pejabatnya sibuk mencari keuntungan pribadi sambil mencari seribu satu cara menutup-nutupi aibnya, media arus utama sibuk mendewa-dewakan rating demi sumber pemasukan bernama iklan, dan (herannya) kita para rumput yang bergoyang tanpa sadar ikut sibuk menikmatinya. Semua sibuk. What a magic…

Hal-hal baik itu seolah terkubur jauh dibawah tumpukan berita sampah dan hiburan tak bermutu. Masih sedikit yang dengan sadar dan ikhlas mencoba menggali dan mengeluarkan “permata” tersebut. Ironisnya, tanpa sadar kita makin menambah besar tumpukan itu. Pernahkah Anda memposting link berita atau informasi negatif tersebut ke akun media pertemanan, facebook, twitter, whatsapp, apapun itu namanya? Nah itu dia. Saya yakinkan, dengan makin derasnya arus informasi tanpa Anda menginformasikan pun, teman-teman Anda kemungkinan besar pasti tahu suatu berita cepat atau lambat.

Saya tidak bermaksud untuk menutup mata dengan berita-berita negatif tersebut. Saya sepenuhnya sadar Indonesia sedang sakit, parah, akut, kritis, kronis. Sebutkan semua jenis penyakit, Anda akan temukan semuanya disini. Tak perlu satu negara, cukup di ibukotanya saja. Virus epidemik ini menyebar dari hulu ke hilir, dari atas ke bawah, dari kulit ke tulang, dari langit ke bawah tanah, daru puncak gunung ke dasar laut. Negeri ini sudah terbiasa dengan buaian angin surga negeri-negeri asing dan antek-antek korporasi pemeras sumber daya alamnya. Baru sesaat terbangun, maka angin sepoi segera dihembuskan. Pujian sebagai negeri demokratis, gelar kebangsawanan dari negeri lain, pujian sebagai negeri yang bertoleran dalam kebebasan beragama dan yang lainnya, dengan suksesnya meninabobokan kembali. Dan para pemimpinnya lebih sibuk untuk mencitrakan diri seperti berbagai pujian cemen tadi. Negeri ini, terutama ibukotanya, seolah memang tidak dibangun untuk rakyat. Tidak memanusiakan manusianya. Persis seperti gambaran Andre Vltchek , seorang jurnalis investigatif dalam artikelnya berjudul “The Perfect Fascist City”. Mau yang lebih heboh lagi, baca bukunya berjudul “Archipleago of Fear”.

Berbagai pemberitaan tersebut harusnya menjadi alat kontrol dan kritik sosial masyarakat terhadap pemerintah. But unfortunately, fungsi ini tidak diimbangi oleh aksi nyata mencari solusi dan menjalankannya. Semakin lama malah menjadi tontonan belaka yang dengan pintarnya oleh si empunya perusahaan media dijadikan semacam ajang reality show masal atau drama berseri tanpa kata tamat. Media massa yang seharusnya memberi pencerahan malah menjadi alat pembodohan. Ini yang menipiskan rasa cinta dan bangga kita pada tanah air.

Pernahkah Anda mendengar nama-nama seperti Tex Saverio, Chris Lesmana, Rini Sugiarto Yohanes Surya, Arif Budi Witarto, atau Eko Supriyanto? Tahukah Anda seorang bupati bernama Untung Wiyono dengan segudang prestasinya memajukan wilayahnya jauh sebelum seorang Jokowi dielu-elukan seperti sekarang? Tahukah Anda bahwa majalah Lonely Planet pernah menyebut bahwa Indonesia memiliki hampir 90% keanekaragaman lanskap dunia? Tahukah Anda di Yogyakarta ada seorang tukang becak yang menguasai beberapa bahasa asing selain bahasa Inggris. Tahukah Anda Kapolri pertama bernama Hoegeng dengan segala kejujuran dan kewibawaannya menjadikannya polisi yang paling dihormati di Indonesia? Tahukah Anda akan seorang Hasyim Maulana yang nyaris seumur hidupnya membaktikan dirinya sebagai perajin ondel-ondel karena kecintaannya pada simbol budaya Betawi itu?

See. Ternyata masih ada sesuatu yang membangkitkan energi positif. Hanya saja kita belum banyak tahu. Bayangkan jika tiap pagi kita disuguhi berita atau informasi seperti ini. Hidup pasti akan lebih bersemangat. Baiklah. Cukup sudah Saya berpanjang lebar. Inti dari ribuan kata diatas adalah bahwa yang kita butuhkan hanyalah berita dan informasi yang menginspirasi, mengapresiasi dan mengedukasi. Sudahlah cukup media-media mainstream itu mencekoki kita dengan segala berita negatif. Saya tahu dan sadar kita tidak bisa mengubah keadaan sendirian. Tapi semua hal besar selalu berawal dari hal kecil bukan? Silahkan baca buku “Tipping Point” karya Malcolm Gladwell dan Anda akan mengerti arti sebuah perubahan kecil namun membawa dampak masif (thanks Andriyanti for the bibiliography). Marilah kita mulai dari diri sendiri. Yang terbaik tentu adalah dengan berkarya dan menghasilkan prestasi sebaik mungkin apapun profesi kita, sehingga kita bisa menjadi sumber berita baik, setidaknya bagi orang-orang terdekat di sekeliling kita. Jika tidak mampu, bantulah dengan menjadi penyebar berita baik. Jika masih tidak mampu juga, then be quite. Stop menyebarkan berita buruk, jika bukan bertujuan untuk mencari solusi nyata. Good news is good news. It is our inspiration to reach the spirit for better life. Tulisan ini sekaligus menjadi kritik pribadi. Jika Anda mendapati Saya  menyebarkan informasi negatif tanpa tujuan yang jelas, tegurlah.

Tanpa bermaksud sombong, Saya sudah memulainya dari diri sendiri dengan membuat blog pribadi ini. Awalnya hanya sebagai sarana berbagi sekaligus wadah menyalurkan kegemaran Saya akan jalan-jalan, fotografi dan menulis. Namun kini Saya merasa ikut bertanggung jawab dalam hal menyebarkan energi postif kepada para pembaca. Pada akhirnya, melalui foto dan tulisan Saya berharap bisa memiliki visi dan misi layaknya Nabi Muhammad, pembawa berita gembira. Untuk ke depannya blog ini akan lebih banyak memuat informasi yang menginspirasi, mengapresiasi dan mengedukasi. Setidaknya Saya tidak akan menulis berita negatif tanpa maksud yang jelas. Jadi, apa berita baikmu hari ini?

whatever i love indonesia

Indonesian-based photographer and story teller

What's on your mind