Nyekar (Visiting The Ancestor)

It’s a customary for Muslims in Java to visit graveyard of the ancestors in the month of Sya’ban, the month before Ramadhan, the fasting month. They believe that in the Sya’ban, or so-called Ruwah in Javanese calendar, is a time when Allah opens the door of pray so wide for the people who have died. That’s why it is called Ruwah, which comes from word “roh” (the spirit). Various activities carried out, mostly such as cleaning the grave, sowing flowers and praying for the deceased. These series of activities in Javanese terms called “nyekar”. In some places the scale of events could be larger since some sort of ceremony or ritual also held. Usually because the predecessor was a major figure in his life time. This nyekar event in large scale is called “Nyadran”.

IMG_7309

A few days ago before fasting month I have also undergone this nyekar activities. With my father I visited his parent’s grave in Ponorogo, East java. Our first destination was grandfather’s grave located in Cluwak village, Karangpatihan. It needs an extra effort to go there since the road hasn’t been paved. The car could not go inside, just got to the end of the village. Next we had to walk about three hundred meters to the cemetery that lies between the teak forests and local yard. Even five years ago the pilgrims have to cross the river near the cemetry because the bridge that crossing over the river has not built yet.

IMG_7351

IMG_7332

My grandfather’s grave, the late Darmo Atmodjo, is easy to recognize, ten graves that gathered into a plot and fenced as boundary to the other grave. There’s a story about this gathered graves. My grandfather was one of the victims of the massacre by PKI (Indonesia Communist Party) rebellion in 1948. Having killed, his body was put into a hole with nine other victims. After the hole was found and the bodies were removed, the families agreed to burry the bodies in a plot to memorize the incident. Due to the lackness of corpse identifying that time, the tombs were not given the identity of the bodies. So until now the family never knew where te actual tomb of the bodies are among the ten tombs. As a result, every time we make a pilgrimage here we have to clean up and sowing flowers to all ten graves in plot. Luckily, we met with one of the other deceased family came from Ngawi. Cleaning the graves became much easier. From them we also knew the stories about the other deceased which we never knew previously. God is mysterious. It brings It’s servants through a tragic event that befell their ancestors.

After nearly two hours, we continued our trip to my grandmother’s grave, the late Soedjarmi, in Pulung village which located about thirty kilometers from grandfather’s grave. Travel here was easier and more fun. Good road access as well as breathtaking view along the trip. Terrace paddy field outspread just like in Ubud Bali, since the location laid at the valley of Wilis mountain. Cleaning the tomb was also easier since there’s only one grave needs to be cleaned and it was easy to identified from the writing carved on the tombstone. Unlike the grandfather’s grave, it’s more like family cemetery here, since mostly deceased burried here still have family ties and also they were villager of Pulung during their lifetime. My grandmother’s grave also gathered with her both parents and older brother.

IMG_7518

IMG_7509

Why do we make pilgrimages? Are there other meanings of this event, which forbidden by Prophet Muhammad at first since it feared could drag his fellow into paganism. Apparently there are others more noble purpose. First, it’s a reminder for those for those who’re still alive that death is a certainty. Instead of to be feared, death should be a motivation. What kind of memory we want to be remembered by others when we die. Remembering the death means trying to have better attitudes and actions during life. Second, as a means to commemorate our parents and ancestors who already left us. As younger generation, forgetting the older generation is not a proper. We exist because they ever existed. Whether good or bad during their lifetime, there’s always a lesson we can learn so that we can live as a better beings, a beings that are beneficial to others.

***

Adalah kebiasaan bagi muslim di Jawa berziarah ke makam para pendahulu pada bulan Sya’ban, bulan sebelum Ramadhan. Mereka percaya bahwa bulan Sya’ban, atau dalam tahun Jawa disebut Ruwah, adalah waktu dimana Allah membuka lebar pintu doa bagi orang-orang yang telah meninggal. Itu kenapa disebut dengan Ruwah, yang berasal dari kata roh. Umumnya kegiatan yang dilakukan adalah membersihkan makam, menaburkan bunga dan berdoa bagi almarhum. Rangkaian kegiatan ini dalam istilah Jawa disebut dengan “Nyekar”. Di beberapa tempat skalanya bisa lebih besar karena juga diadakan semacam upacara atau ritual tertentu. Biasanya karena si pendahulu adalah adalah tokoh besar di zamannya. Nyekar dalam skala besar ini disebut dengan “Nyadran”.

IMG_7454

IMG_7399

Beberapa hari yang lalu sebelum bulan puasa Saya juga melakukan nyekar. Bersama ayah, Saya mengunjungi makam kedua orang tuanya di Ponorogo, Jawa Timur. Tujuan pertama kami adalah ke makam kakek yang terletak di desa Cluwak, Karangpatihan. Butuh perjuangan ekstra untuk pergi kesana karena jalan menuju makam belum diaspal. Mobil tidak bisa masuk ke dalam, hanya sampai di depan batas desa. Selanjutnya kami harus berjalan kaki kurang lebih tiga ratus meter ke makam yang terletak di antara pekarangan warga dan hutan jati. Lima tahun yang lalu bahkan para peziarah harus menyebrang sungai dekat makam ini karena jembatan yang melintas di atas sungai belum dibangun.

Makam kakek, almarhum Darmo Atmodjo, mudah dikenali yaitu berupa satu petak berisi kumpulan sepuluh makam yang diberi pagar pembatas dengan makam yang lain. Ada sebuah cerita kenapa makam kakek Saya dikumpulkan dengan sembilan makam yang lain. Kakek Saya adalah salah satu korban pembantaian gerakan PKI pada tahun 1948. Setelah dibunuh, beliau dimasukkan ke dalam satu lubang bersama sembilan korban lainnya. Ketika lubang ditemukan dan jenazah diangkat, para keluarga sepakat untuk memakamkan para jenazah dalam satu petak untuk mengingat kejadian tersebut. Berhubung kemampuan mengidentifikasi jenazah belum semaju sekarang, batu nisan pada makam tersebut tidak diberi identitas jenazah. Jadi sampai sekarang kami para keluarga tidak pernah tahu dimana sebenarnya makam jenazah yang bersangkutan diantara sepuluh makam tersebut. Akibatnya setiap kali kami berziarah kesini kami harus membersihkan dan menaburkan bunga ke sepuluh makam dalam satu petak tersebut. Beruntung waktu itu kami bertemu dengan keluarga salah satu almarhum lainnya yang berasal dari Ngawi. Pekerjaan membersihkan makam jadi lebih ringan. Dari mereka kami jadi tahu berbagai cerita tentang sepuluh jenazah ini yang sebelumnya kami tak pernah tahu. Tuhan memang misterius. Ia mempertautkan hamba Nya melalui sebuah peristiwa tragis yang menimpa leluhurnya.

IMG_7412

IMG_7426

Setelah hampir dua jam, kami melanjutkan perjalanan ke makam nenek, almarhum Soedjarmi, di desa Pulung, kurang lebih tiga puluh kilometer dari makam kakek. Perjalanan kesini lebih mudah dan menyenangkan. Selain akses jalan yang baik, pemandangan di pinggir jalan sampai ke makam cukup indah. Hamparan sawah terasering tersaji, seperti di Ubud Bali. Wajar, lokasinya berada di kaki gunung Wilis. Kegiatan membersihkan makam pun juga lebih mudah karena makamnya hanya satu dan bisa dikenali dari tulisan yang tertera di nisannya. Tidak seperti makam kakek, makam disini lebih mirip makam keluarga karena yang dimakamkan disini sebagian besar masih memiliki hubungan saudara dan merupakan penduduk desa Pulung semasa hidupnya. Disini makam nenek juga berkumpul dengan makam kedua orang tua dan kakak tertuanya.

Mengapa kita berziarah? Adakah makna lain dari kegiatan ini, yang dulu bahkan sempat dilarang oleh Rasulullah karena dikhawatirkan dapat menyeret umatnya dalam kemusyrikan? Jika sekedar mendoakan, bukankah kita bisa melakukannya dimana saja dan kapan saja? Ternyata ada tujuan lain yang lebih mulia. Pertama, agar kita yang masih hidup teringat bahwa suatu saat nanti kita juga pasti mati. Kematian tidak untuk ditakuti, karena semua makhluk pasti mati. Namun yang terpenting adalah ingin diingat seperti apa oleh orang lain ketika kita mati. Mengingat kematian artinya berusaha untuk lebih mengendalikan sikap dan perbuatan semasa hidup. Kedua, sebagai sarana untuk mengenang para orang tua dan leluhur kita. Sebagai generasi yang lebih muda tidaklah layak melupakan generasi yang lebih tua. Kita ada karena mereka pernah ada. Terlepas baik atau buruk mereka semasa hidup, selalu ada pelajaran yang bisa kita ambil agar kita dapat menjalani hidup sebagai makhluk yang lebih baik, yaitu makhluk yang bermanfaat bagi sesamanya.

IMG_7447

IMG_7421

IMG_7498

4 Comment

  1. Budi says: Reply

    Om Aan leluhurnya di Ponorogo Juga to?
    Setiap lebaran ane juga nyekar ke Pulung Om..( embah dari istri ), dan juga kesampung ( embah dan leluhur ane )..

    1. aansmile says: Reply

      iya, lahir juga di ponorogo. tapi dari kecil udah pindah ke jogja

  2. SI BLEK says: Reply

    NEK SURO DISEMPATKE MRENE NGOK, “REOG FEST: THE LEGEND”

    1. Alfian W.S (Aan) says: Reply

      siyap, masblek

What's on your mind