Mitos Penjaga Alam Baduy

Tak jarang omongan dari mulut ke mulut lebih bisa memberikan sugesti daripada aturan atau simbol. Mitos seputar Urang Kanekes atau yang lebih terkenal dengan suku Baduy, Banten lama, contohnya. Awal Februari 2013, Saya bersama dua orang rekan, om Andre, Fatur dan satu rekan cilik, Bram yang masih berusia delapan tahun yang juga putra om Andre, mencoba menyusuri pedalaman Baduy yang terkenal akan cerita dan mitosnya. Setelah empat jam perjalanan dari Jakarta menggunakan mobil, kami berempat ditemani seorang pemandu, Pak Agus, menjejakkan langkah pertama dari Ciboleger tepat jam 12 siang. Tujuan utama kami adalah desa Cibeo, salah satu dari tiga desa Baduy Dalam. Dua yang lain yaitu Cikesik dan Cikartawana. Tak lama kemudian, bergabung dengan kami seorang porter, Yuli Arsyad, yang juga seorang anggota suku Baduy Dalam. Umurnya 20 tahun, berperawakan tidak terlalu tinggi, kulit putih bersih, rambut lurus panjang, mata bulat, alis tipis tapi tegas dan sedikit jenggot. Tipikal khas orang Baduy.

1

Ditemani guyuran hujan, rombongan melewati beberapa kampung Baduy Luar. Mulai dari kampung Balingbing, Marengo, dan Gajeboj. Yang disebut terakhir adalah kampung yang sering dipakai pengunjung untuk menginap karena banyak tersedia rumah singgah. Disini kami masih bisa mengambil gambar dan menggunakan alat komunikasi, hal yang terlarang di area Baduy Dalam. Di perjalanan, kami sering berpapasan dengan orang-orang yang membawa pikulan berisi buah durian, baik itu orang luar maupun warga Baduy sendiri. Sedang panen rupanya. Bau semerbak durian tiap kali berpapasan membuat Saya berkhayal akan nikmatnya menyantap buah berduri ini sambil duduk di tengah hutan atau di pinggir sungai. Ahh…nikmatnya. Sungguh imajinasi tingkat tinggi untuk orang yang biasa tinggal di kota. Kami baru tahu dari penuturan Yuli bahwa di Baduy berlaku aturan barang siapa yang menemukan durian yang sudah jatuh, maka dia lah yang berhak memiliki durian itu, siapapun orangnya, meskipun pohonnya milik orang lain. Tidak heran dari tadi Saya lebih sering menjumpai orang luar yang membawa durian daripada orang Baduy sendiri. Mereka ternyata sengaja masuk ke dalam hutan dan bergadang semalaman untuk menunggu durian jatuh dan memungutnya, karena saat malam durian lebih mudah jatuh daripada siang, setidaknya itu kata Pak Agus. Saat musim panen seperti ini, dalam semalam satu orang bisa mendapatkan lebih dari lima puluh buah. Refleks, Saya menelan ludah.

2 4

Selama perjalanan, baik Pak Agus dan Yuli bergantian bercerita seputar Urang Kanekes terutama Baduy Dalam. Pak Agus yang dekat dengan keluarga Yuli, umumnya bercerita tentang lima belas tahun pengalamannya menjadi pemandu turis di Baduy. Berbagai peristiwa berkaitan dengan aturan di Baduy Dalam yang tidak membolehkan pengambilan gambar, penggunaan sabun, pemakaian gadget dan berbagai pantangan lainnya. Semua aturan itu harus ditaati oleh siapapun, jika tidak hal-hal buruk akan menimpanya. Salah satu yang peristiwa diceritakan yaitu saat seorang turis asing dari Kanada yang penasaran dengan apa yang akan terjadi jika ia melanggar aturang tersebut. Si bule yang sendirian ini pun memotret di kawasan Baduy Dalam dan mandi di sungai menggunakan sabun. Tak lama kemudian si turis menghilang dan baru ditemukan dua hari kemudian dalam keadaan setengah telanjang terbaring pingsan di tengah kuburan dengan badan penuh luka. Yang terjadi adalah si turis jatuh terperosok ke lembah, tapi menurut penuturan si orang Kanada ini ia bertemu dengan wanita cantik dan diajak bermalam di rumahnya. Rupanya si turis ini “diculik” makhluk halus yang menyerupai wanita cantik.

Area perladangan, hutan tropis dan sungai bergantian kami lewati. Di tengah medan terjal yang becek akibat guyuran hujan yang tak kunjung berhenti, sesekali kami berhenti untuk istirahat sambil menikmati alam Baduy yang masih sangat alami. Saya tersadar bahwa cerita dan mitos itulah yang telah menjadi senjata ampuh untuk melindungi alam Baduy. Cerita dan mitos membuat orang bertindak lebih terhormat terhadap alam, walaupun Saya agak kesal melihat sampah tercecer di beberapa tempat. Di tengah perjalanan ada satu hal yang menyita perhatian. Kami bertiga, para orang kota, dengan tidak menghitung rekan kecil Bram, tampak cukup kerepotan berjalan menaklukkan medan becek dan berbatu, padahal kami sudah menggunakan sepatu dan sandal gunung dengan merk terkenal. Sementara Yuli terlihat nyaris tak mengalami kesulitan. Saya yang kebetulan berada tepat dibelakang Yuli menyaksikan langsung kehebatan kaki-kaki telanjangnya menapak dengan jari-jari kaki mencengkeram tanah dan batuan dengan mantap. Kakinya tampak besar karena otot-otot yang terlatih sejak kecil dengan alas telanjang melewati medan terjal. Begitu gagapnya kami dengan alam. Bukan hanya rute offroad, onroad pun sudah sering dilahapnya. Pak Agus bercerita, Yuli dan warga Baduy Dalam lainnya sudah terbiasa pergi ke Jakarta dengan berjalan kaki tanpa alas di jalan aspal dengan waktu tempuh dua hari. Itu semua karena aturan sebagai warga Baduy Dalam yang melarang mereka memakai kendaraan karena dianggap termasuk peralatan modern. Jika dilanggar, hukumannya adalah dikucilkan selama 41 hari di hutan adat, dan bekerja tanpa dibayar, hanya diberi makan saja.

5 7 8 9

Dua setengah jam perjalanan, hujan telah reda dan kami singgah ke sebuah saung sederhana di tengah ladang yang dimiliki Yuli. Sayangnya kami sudah berada di area Baduy Dalam. Padahal Saya terpesona dengan setidaknya tiga hal disini, bangku bambu panjang layaknya sofa yang seolah melambaikan tangan mengajak untuk merebahkan badan, durian yang begitu banyak tersaji di atas meja kayu, dan tempat minum berupa potongan batang bambu. Gatal rasanya tangan ini untuk tidak mengeluarkan kamera. Tapi ya sudahlah, Saya menahan diri sambil mencoba mengambil sisi positifnya, yaitu Saya bisa merasakan momen kenikmatan tanpa terganggu aktifitas mengambil gambar. Menikmati durian layaknya makan nasi ditemani kopi susu hangat dalam gelas bambu sambil duduk di bangku bambu menghadap pemandangan sawah dengan latar belakang hutan rimba, ditemani suara sungai, kicauan burung dan suara ranting pohon yang bergesekan akibat angin. Perlahan cahaya matahari sore menerpa, menghangatkan tubuh yang masih dingin akibat guyuran hujan, seraya juga ia menyinari deretan sawah dan belantara rimba di depan sana. Warna hijau kekuningan terhampar. Ini lebih dari yang Saya bayangkan. Aahh…Dan nikmat Tuhanmu manakah yang engkau dustakan? Sebuah kemewahan luar biasa bagi orang kota.

10 11

Satu jam lebih kami bercengkrama. Enggan rasanya beranjak dari tempat yang penuh kedamaian ini. Tapi tujuan akhir belum tercapai dan memaksa kami melanjutkan perjalanan. Akhirnya tepat jam 18.30 setelah menempuh 12 km berjalan kaki, kami sampai di desa Cibeo. Kami terpana dengan deretan rumah panggung terbuat dari kayu jati, bambu, dengan atap susunan daun kelapa. Semua bentuknya sama dan menghadap ke arah yang sama, membuat kami kebingungan saat keluar sendirian. Pak Agus membawa kami ke sebuah rumah. Di teras rumah duduk seorang pria paruh baya menyambut kami, Ayah Ardi namanya. Dia adalah ayah Yuli sekaligus tuan rumah kami malam ini. Sambil melepaskan sepatu dan tas, Saya memperhatikan detil rumah ini. Benar-benar terbuat dari bahan alami, bahkan paku dan engsel pun tidak ada. Sebagai penggantinya dipakailah pasak kayu dan kulit kayu.

13 15

Tak lama, Pak Agus mengajak kami untuk mandi di sungai tak jauh di belakang rumah. Sesampainya disana, Pak Agus langsung memberikan contoh. Ia menanggalkan semua pakaian dan meceburkan diri ke sungai. Sementara kami di pingir sungai hanya bengong dan saling berpandangan. Maklum, butuh waktu sejenak bagi kami untuk mencerna aktifitas yang akan kami lakukan setelah seumur hidup terbiasa mandi di ruangan tertutup. Ah, peduli amat. Saya yang awalnya sempat ragu, tak ingin ketinggalan untuk menikmati sensasi mandi di alam terbuka. Segera saja kami mengikuti Pak Agus. Brrrr…airnya dingin dan segar. Sisa-sisa cahaya sore menjadi satu-satunya penerang. Ditemani dengan suara katak, suara sungai, dan langit yang mulai memunculkan jutaan bintangnya. Sensasi yang wow!! Kami sempat terkesiap saat tahu di dekat kami ada sebuah jembatan bambu dan beberapa kali ada orang lewat. dan juga ketika mendapati tak jauh di belakang kami sekitar dua puluh meter di sungai yang sama menjadi tempat mandi khusus kaum wanita. Ah, entahlah. Sensasi ini terlalu mengasyikkan untuk teralihkan. Setelah puas, kami pun keluar dari sungai. Entah kenapa badan terasa sangat segar dan bersih. Rasanya jauh lebih segar daripada memakai sabun seperti mandi sehari-hari. Seketika Saya tahu jawabannya. Berkat air sungai yang masih bersih dan gesekan air dengan badan yang telah mengikis kotoran dan keringat di badan.

18 19

Malam harinya kami disuguh makan malam yang bahan mentahnya telah kami bawa dan siapkan sebelumnya. Suku Baduy Dalam sendiri memasak menggunakan tungku api berbahan bakar arang kayu dan dandang atau wajan dari kuningan. Untuk menanak nasi mereka menggunakan anyaman bambu, dan batok kelapa untuk menuangkan air minum. Di sela-sela makan, kami berbicara dengan keluarga Ayah Ardi tentang Baduy.Kami baru tahu bahwa di Baduy Dalam hanya ada tiga kampung, Cibeo, Cikesik dan Cikartawana. Selain kedekatan dengan alam, satu hal yang Saya kagumi dari mereka adalah kesederhanaan, terutama dalam hal kepemimpinan. Diceritakan bahwa seorang Puun atau tokoh adat haruslah lebih sederhana daripada warganya dalam banyak hal, mulai dari materi, tingkah laku, sikap dan yang lainnya. Tak heran, rumah seorang tokoh adat selalu yang paling kecil diantara rumah-rumah lain dalam satu kampung. Di kalangan Baduy, seorang Puun dikenal memiliki ilmu tinggi dibanding warga Baduy lain. Karenanya mereka selalu dilibatkan dalam acara penting seperti penentuan masa tanam, pemberian sanksi adat, mengobati orang sakit, hingga meenentukan waktu Kawalun yaitu waktu puasa bagi suku Baduy. Sayang keinginan kami untuk bisa bertemu dengan Puun tidak bisa terkabul karena Puun tidak bisa ditemui oleh sembarang orang. Puun hanya bisa ditemui jika ada hal-hal yang benar-benar penting saja. Di kampung Cibeo sendiri tokoh adatnya yaitu Puun Jasdi. Saya juga baru tahu bahwa di antara suku Baduy Dalam juga berlaku semacam hukum alam. Itu menjawab pertanyaan Saya yang selama perjalanan mendapati bangunan lumbung untuk menyimpan padi selalu terletak jauh dari perkampungan. Mereka membangun lumbung jauh dari perkampungan untuk menghindari akibat buruk jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, kebakaran misalnya. Pertanyaannya, apa mereka tidak khawatir dengan keamanan lumbung padi jika jauh dari tempat tinggal. Mereka yakin bahwa barang siapa mencuri milik orang lain, maka di kemudian hari si pencuri akan mengalami hal-hal buruk terhadap dirinya, keluarga atau hartanya. Dan menurut penuturan mereka, hukum itu selalu terjadi.Jadi mereka tidak perlu membentuk suatu satuan kemananan khusus dalam masyarakatnya. Hmm..otak Saya belum bisa menalar hukum alam ini. Yang jelas, Saya percaya bahwa setiap orang akan mendapatkan sesuatu sesuai dengan perbuatannya. Kesederhanaan, hukum alam dan mitos bukan hanya menjaga lingkungan, tapi juga jiwa dan harta mereka. Itulah salah satu kesimpulan perbincangan kami malam ini.

20 3

Esoknya usai makan pagi kami berpamitan dengan Ayah Ardi dan keluarganya untuk melanjutkan perjalanan 7 km menuju tujuan berikutnya, jembatan akar. Kami masih ditemani oleh Yuli dan Pak Agus. Rute kali ini relatif lebih menantang dibanding rute Ciboleger-Cibeo, walaupun jaraknya lebih pendek dan Saya merasa lebih bisa menikmati perjalanan karena rutenya lebih didominasi dengan hutan rimba dan perkampungan. Saya sangat antusias ketika melewati bagian hutan. Hutan di Baduy masih sangat alami, dengan pepohonan menjulang tinggi, ranting daun yang lebat, praktis hanya menyisakan sedikit cahaya matahari yang dapat menembus ke dalam. Persis seperti hutan pedalaman Kalimantan atau Amazon Brazil. Meskipun bukan hutan adat, tapi seperti inilah kira-kira bentuk hutan adat, kata pak Agus. Hutan adat sendiri sangat disakralkan oleh suku Baduy Dalam. Di dalamnya menjadi tempat bagi Puun untuk bersemedi, menjadi tempat pengasingan, serta menjadi lokasi beberapa acara adat. Tak heran, hutan adat tidak boleh dirambah untuk cocok tanam ataupun tempat tinggal. Untung saat itu cuaca cerah. Sesekali kami dengar kicauan burung dan tampak juga monyet bergelantungan di beberapa lokasi. Sayang, kami masih berada di Baduy Dalam. Jari tangan pun masih menahan gatal.

6 12

Lelah mulai merasuk, membuat konsentrasi menurun. Beberapa kali Saya hampir jatuh. Setelah beberapa saat, semangat kami mulai berkobar lagi. Suara aliran air riuh rendah terdengar dan makin jelas. Dari suaranya kami yakin sungainya pasti cukup besar. Jembatan akar sebentar lagi, begitu teriak Pak Agus yang berada paling belakang, membuat kami mempercepat langkah. Bram si bocah paling bersemangat. Sejak kemarin sepanjang jalan selalu antusias jika bertemu dengan sungai atau aliran air. Benar saja. Begitu kami sampai, seolah tak mendengarkan terakan ayahnya untuk berjalan pelan-pelan, ia langsung berlari ke bawah jembatan dan bermain air sungai, sementara kami masih asyik menikmati suasana di jembatan akar. Sungguh eksotis. Jembatan yang membentang sepanjang 25 meter di atas sungai Cisimeut ini terbuat dari akar yang masih tersambung dengan pohonnya sebagai penyangga, sementara bambu dipasang sebagai alasnya. Sejumlah anak tampak asyik nongkrong di tengah jembatan sementara yang bermain di sungai lebih banyak lagi. Kami pun ikut tergoda untuk turun ke sungai dan bermain air. Keinginan Saya untuk bergabung dengan Bram dan Pak Agus yang sudah lebih dulu menceburkan diri terpaksa diurungkan. Saya tersadar telah membuat kesalahan konyol, tidak membawa ganti celana dalam!!

14 16 17

Satu jam puas bermain air, kami melanjutkan perjalanan terakhir kembali menuju Ciboleger. Tak lama berjalan, suara sungai perlahan berganti dengan suara ketukan bertalu-talu yang harmonis, makin lama makin keras. Akhirnya kami sampai di sumber suara yaitu di sebuah perkampungan Baduy Luar yang didalamnya kami jumpai ibu-ibu sedang menumbuk padi. Ternyata mereka tidak sembarangan dalam menumbuk. Mereka menciptakan tempo tumbukan yang harmonis. Saya terpukau. Kegiatan sederhana saja bisa menghasilkan sebuah pertunjukan seni yang enak didengar. Di sisa 4 km terakhir, kami memutuskan memakai ojek dengan pertimbangan si kecil dan gendut Bram yang sudah sangat kelelahan, juga karena jalanan yang sudah bisa dilalui kendaraan. Tepat pukul 14.00 kami mengakhiri jarak 7km terakhir dengan sampai di Ciboleger. Kedua kaki terasa lemas dan keringat mengucur deras. Namun itu semua sepadan dengan yang kami peroleh. Mata terobati dengan pemandangan indah, tubuh terobati dengan air dan udara yang bersih, serta jiwa terobati dengan kepolosan dan kesederhanaan. Terima kasih Baduy, telah menjadi obat sekaligus pelindung alam.

21 22

Indonesian-based photographer and story teller

What's on your mind