Awas Komplotan Toko Kamera Nakal!

Jika Anda berencana membeli kamera dan atau asesorisnya, tidak ada salahnya membaca tulisan ini sejenak agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan. Seiring makin berkembangnya teknologi, dunia fotografi juga semakin marak dan lebih banyak kalangan masyarakat bisa menjangkaunya. Sebagai senjata utama fotografi, harga kamera sebenarnya tidak bisa dikatakan benar-benar murah karena masih di kisaran jutaan rupiah. Tapi memang harus diakui masih jauh lebih murah dibandingkan puluhan tahun lalu misalnya, dimana kamera hanya bisa dimiliki sebagian orang saja. Bahkan kamera jenis SLR yang paling murah sekalipun bisa seharga dua sepeda motor bebek waktu itu. Namun karena (harus diakui) pada dasarnya orang Indonesia itu konsumtif, nafsu belanjanya besar, sudah begitu gengsinya tinggi, maka orang-orang jenis ini yang rawan menjadi sasaran toko-toko kamera nakal. Kasus seperti ini sudah sering terjadi dan Anda bisa temukan cukup banyak ulasannya di internet. Intinya yaitu pembeli membeli barang dari toko tertentu dengan harga yang jauh diatas wajar harga pasaran. Toko-toko nakal ini bukan toko online yang tak jelas wujudnya, melainkan nyata di depan mata, mulai dari barangnya, penjualnya, tokonya hingga uangnya. Beberapa waktu lalu Saya mendapatkan info tentang toko-toko nakal ini dan mencoba membuktikannya sendiri. Hasilnya kurang lebih seperti berikut.

Ada 2 jenis modus yang dipakai oleh toko-toko kamera nakal ini:

  1. Pertama, mereka akan “menggembosi” kantong pembeli dengan menurunkan harga kamera namun menaikkan harga asesorisnya diluar kewajaran. Membeli kamera itu artinya Anda membeli seperangkat sistem. Jadi tidak mungkin Anda hanya membeli sebuah kamera, tapi Anda juga butuh berbagai asesoris perlengkapannya. Apalagi kalau kamera yang dibeli berjenis DSLR. Filter, cleaning kit, kartu memory, tas kamera, dll wajib hukumnya. Kelengkapan ini bisa memakan biaya yang tidak sedikit. Celah inilah yang dimanfaatkan toko nakal untuk mengacaukan harga. Jika calon pembeli ngotot untuk tetap membeli kamera saja dengan harga yang cukup murah ini, mereka akan berdalih barang kosong, perlu inden, dll. Intinya transaksi tidak jadi, karena mereka tidak bisa menguras uang calon pembeli karena tidak beli asesoris. Kamera yang ditawarkan memang original, bukan BM, dan mereka tidak akan memberikan harga yang rendah sekali, karena jika mencolok selisihnya akan memancing kecurigaan calon pembeli. Harga yang sedikit dibawah harga pasaran sudah cukup membuat pembeli tergiur. Contoh kasus. Beberapa waktu lalu Saya coba masuk ke sebuah toko kamera dan bertanya tentang kamera prosumer Canon G12 yang ketika itu harga pasarannya 3,85-4 jt. Oleh penjual Saya ditawari kamera tersebut seharga 3,75 jt. Beda 100rbu yang cukup menggiurkan bukan? Setelah sepakat, si penjual kemudian meminta rekannya yang lain untuk mengambil barangnya ke “gudang”, begitu dalih mereka. Di saat menunggu inilah si penjual berusaha meracuni Saya untuk membeli berbagai asesoris. Salah satunya yaitu si penjual menawarkan kartu memori merk Sandisk 8 giga class 10 dengan harga 700rb. Glek…!! Saya tahu kartu memori sejenis harganya hanya 100rbuan. Sambil pura-pura bodoh Saya coba bertanya kenapa mahal sekali. Si pembeli menjawab bahwa kartu memori merk ini paling bagus dan levelnya (class nya) tinggi. Saya pun menolak tawaran dan akan cari di tempat lain. Saya bersikukuh hanya butuh kameranya saja. Asesoris lain menyusul. Mendapati hal ini si penjual lalu menelpon seseorang (yang kemungkinan besar temannya yang disuruh ambil barang tadi) dengan bahasa tertentu lalu mengatakan bahwa ternyata barangnya kosong sudah diambil orang lain. Ia menyarankan kepada Saya untuk coba datang besok. Dan sampai kapan pun Saya datang, Saya tahu pasti bahwa stoknya akan selamanya kosong.
  2. Kedua, toko nakal mengalihkan minat pembeli untuk membeli merk lain dengan cara menjelek-jelekkan kamera yang diinginkan atau mengatakan kamera yang diinginkan kosong lalu mengalihkan ke kamera merk lain. Cukup jarang mereka mengalihkan ke merk sejenis tapi beda seri karena kemungkinan si pembeli sudah mendapat referensi merk sejenis walau beda seri. Contoh kasus, dan sayangnya terlanjur menimpa pada seorang teman. Si teman akan beli Canon 600D yang harga pasarannya 6,7-6,8jt. Si penjual mengatakan 600D jelek dan menyarankan beli Nikon D3100 karena sama bagusnya dengan 600D tapi harganya lebih murah, 6,5 juta. Padahal harga pasaran Nikon D3100 hanya 4 jutaan. Jomplang sekali karena secara kelas D3100 dibawah 600D. Sayangnya karena si teman ini masih awam, kurang referensi dan terlanjur ngebet punya kamera, akhirnya menjadi korban.

Masih banyak kasus lain bahkan dengan tingkat ketidakwajaran yang lebih luar biasa. Dan biasanya pembeli cukup susah membedakan mana toko yang berjualan dengan cara yang benar dengan toko nakal ini, karena mereka jumlahnya sangat banyak. Selain itu setelah si toko nakal sukses menjalankan aksinya, ia akan langsung menyebar info kepada toko-toko sejenis yang memang dalam satu naungan “manajemen artis” ini mengenai ciri-ciri korban dan barang yang dibeli beserta harganya dengan tujuan mengelabui siapa tahu setelah kejadian si korban survei lagi ke toko sejenis. Itu kenapa tulisan ini menyebut toko nakal itu sebagai komplotan. Pertanyaannya, toko mana saja yang menjadi bagian dari komplotan ini? Sebenarnya agak percuma Saya menyebut nama tokonya, karena selain tokonya sangat banyak, nama toko tidak penting bagi mereka. Karena mereka umumnya suka berganti nama agar tidak mudah dikenali. Namun demikian toko-toko nakal ini memiliki beberapa ciri, antara lain :

  1. Pertama, si toko tidak punya nama atau punya nama tapi pemasangan nama tokonya seadanya, supaya mereka mudah mengganti nama toko. Nama tokonya pun terkesan seadanya dan umumnya hanya terdiri satu kata. Biasanya komplotan toko nakal ini ada di mal atau pusat perbelanjaan barang elektronik. Pusatnya di Jakarta paling banyak di Glodok, Mangga Dua, Ambasador dan mulai merambah tempat lain. Bahkan beberapa sudah buka cabang di kota lain seperti Bandung dan Surabaya.
  2. Kedua, yang paling mencolok, para penjaga toko ini umumnya adalah etnis tertentu (maaf Saya menghindari menyebut etnisnya takut SARA. Tapi Anda bisa dengan mudah mengenali etnisnya ), mayoritas pria, masih muda dan bergerombol cukup banyak untuk ukuran satu toko. Satu toko bisa diisi sampai 3-6 orang dengan satu orang biasanya berjaga di depan toko untuk memancing perhatian pembeli. Umumnya mereka saling berkomunikasi dengan bahasa mereka sendiri supaya pembeli tidak mengerti pembicaraan. Beberapa toko sudah melakukan “modifikasi” yaitu dengan melakukan rolling karyawan atau mengganti karyawan dengan etnis lain. Biasanya mereka tidak terlalu mengerti soal kamera, jadi jika ditanya lebih detil tentang kamera jawabannya sekenanya saja, walaupun ada 1-2 orang yang cukup mengerti.

Dua ciri diatas sangat mungkin berubah sebagai kamuflase. Namun yang jelas modus operandinya seperti yang sudah ditulis diatas dan korbannya biasanya mereka yang masih awam tentang kamera dan minim referensi. Untuk itu ada beberapa hal yang bisa sangat berguna untuk menghindari penipuan seperti ini :

  1. Pertama, awali semuanya dari hati dan pikiran yang jernih. Cari dan temukan dulu kebutuhan, untuk selanjutnya Anda dapat memilih dan membatasi alat-alat apa saja yang dibutuhkan. Jangan mudah termakan keinginan. Celah emosional ini yang sangat mungkin terpancing untuk melakukan hal-hal yang akan disesali dibelakang waktu. BEDAKAN ANTARA KEBUTUHAN DENGAN KEINGINAN, karena keduanya bisa sangat tipis. Ingat, foto terbaik itu bukan berasal dari alat terbaik, tapi dari orang terbaik. Photography is about 90% creativity & 10% tools.
  2. Kedua, tidak ada salahnya meluangkan sedikit waktu dan tenaga untuk SURVEI memperkaya referensi baik langsung ke lapangan atau browsing internet. Sudah banyak referensi dari toko-toko kamera terpercaya (misal jpckemang, bursakameraprofesional, tokocamzone, focusnusantara, anekafoto, fotografernet, dll) dan jika perlu catat dan bawa saat Anda akan membeli kamera.
  3. Ketiga, AJAK TEMAN  YANG SUDAH LEBIH BERPENGLAMAMAN di dunia fotografi agar tidak mudah “tersesat” terutama saat mulai diracuni oleh toko nakal. Selain itu yang tak kalah penting, sabar dan tidak terburu nafsu.
  4. Keempat, KENALI dan ingat baik-baik ciri-ciri komplotan toko nakal seperti yang sudah Saya tulis diatas. Tulisan ini tidak bermaksud untuk mempromosikan toko-toko tertentu. Tapi demi niat baik untuk menghindari kejadian yang tidak diinginkan, beberapa toko layak masuk tulisan ini antara lain untuk di Jakarta seperti tokocamzone, jpckemang, focusnusantara, bursa kamera profesional, jakarta camera, digishop, digital 4 u, aneka foto dan toko-toko lain yang tidak memiliki ciri dan modus seperti toko nakal diatas. Toko-toko ini mungkin ada yang harganya mahal atau pelayanannya kurang memuaskan. Namun sejauh pengalaman dan obrolan lewat mulut, kekurangan ini masih dalam tahap wajar dan dalam prosesnya berjualan dengan cara yang jujur.
  5. Kelima, tidak terlalu wajib tapi tidak ada salahnya dicoba. Jika Anda memang yakin akan kualitas dan harga suatu barang, cobalah untuk SERING BERTANYA dengan agak menyudutkan jika perlu menggertak para penjaga komplotan toko nakal tersebut supaya mereka tidak mencoba menipu Anda. Walaupun sepertinya tidak mungkin terjadi, tapi setidaknya MEMBERIKAN PELAJARAN.

Tulisan ini diharapkan mampu mengedukasi calon pembeli agar lebih jeli sebelum membeli. Karena jika sudah terlanjur terjadi, secara hukum posisi pembeli sangat lemah dan cukup susah untuk meminta pertanggungjawaban meskipun melalui jalur hukum seperti YLKI atau polisi. Karena memang ada uang ada barang, ada kesepakatan, dan ada nota sebagai bukti transaksi. Semua persyaratan teknis jual beli terpenuhi. Hanya saja etika moral dalam berjualan hilang. Satu hal yang menjadi pertanyaan besar. Jika saja yang menjadi toko ini sedikit, mungkin hanya bertendensi sekedar mencari untung namun dengan cara yang tidak wajar. Tapi jika jumlahnya sangat banyak dan terkesan mereka bekerja sama (semacam komplotan sindikat), tidak mungkin hanya niat cari untung saja, pasti ada hal lain yang jauh lebih besar. Apa itu?? Semoga lain kali ada yang sudi mencari tahu dan berbagi dengan yang lain juga.

Seiring dunia perkembangan teknologi yang makin pesat, fotografi menjadi semakin mudah dijangkau dan hampir semua orang mampu dan ingin mempunyai kamera. Kamera tidak lagi hanya milik segelintir orang seperti beberapa dekade yang lalu. Sayangnya euforia ini ternodai dengan ulah sebagian pihak yang ingin mengeruk keuntungan dengan cara yang tidak baik. Jadilah konsumen yang bijak dan teliti. Tulisan ini sekedar sharing dan murni berniat untuk menghindarkan siapa saja agar tidak mengalami hal-hal yang tidak diinginkan. Tidak ada niat SARA atau mempromosikan toko-toko tertentu. Photography is such a fun thing. Let’s make it fun by make other people fun.

Semoga bermanfaat. Salam Jepret..

Catatan :

Tulisan ini sebelumnya sudah Saya publish melalui note facebook. Saya muat kembali sebagai pengingat.

5 Comment

  1. Didit says: Reply

    Wah jadi ingat, 2 minggu lalu saya beli kamera untuk hadiah ulang tahun adik saya. Sebelum pergi, sudah survei harga online, kisarannya sekitar 2,5-2,6 juta. Masuk ke sebuah toko di Ratu Plaza, benar saja, sama persis dengan tulisan Mas. Ditawarkan harga 3,35 juta, saya gertak, minta 2,5, dikasih, tapi terus ditawarkan SD Card 700 ribu. Saya bilang, ya sudah, kameranya saja. Eh tiba-tiba dikabarkan kalau barangnya kosong. Rupanya ini modusnya toh, hehehe.. Ciri-ciri fisik toko juga sama persis dengan tulisan Mas ini. Good to know. Makasih banyak atas tulisannya Mas.

    1. aansmile says: Reply

      sebelumnya salam kenal mas Didit.
      semoga ga jadi korban. iya itu hanya salah satu modusnya, tapi sepertinya jadi modus yang paling umum dipakai.
      mengganti batre dgn yg kw juga jadi salah satu modus

  2. jokomyd says: Reply

    Bener bro…gue tadi siang baru saja cari Canon G15 di Mall A********r, di suatu toko, penjaganya bilang kayaknya ada dan dia suruh karyawan lain cek stok di laptop..sambil nunggu saya ditawari kamera2 lain yang lebih mahal…gue insist beli yang G15 saja ..eeh ujung2nya dia bilang kosong.

    Terus gue ke toko di lantai lain, harganya terbilang lebih murah dibandingkan toko lain yaitu 3,9jt. Kemudian dia tawarkan SD card 8G merek terntentu seharga 350rb, terus dia bilang 8 G masih nggak cukup jadi disarankan beli yg 16 GB seharga 700rb, saya enggak mau beli SD Card itu…eeh tiba2 dia bilang kalau Canon G15 yang seharga 3,9 jt itu belum garansi, kalau mau berikut garansi seharga 4,4jt…capek deh..akhirnya puter balik terus balik kantor gue..

    1. Alfian W.S (Aan) says: Reply

      Syukur ga jadi korbannya mas joko. semoga makin banyak orang yg sadar dan tidak tertipu..

  3. […] peperangan dengan nafsu pribadi ataupun tertipu dengan oknum penjual tak bertanggung jawab. Baca disini untuk tips […]

What's on your mind