A Cup of Warmth in Tak Kie (Secangkir Keakraban di Tak Kie)

I’m not a coffee lovers. But immediately I felt in love with this coffee shop. A few months ago I came to this place for the first time just to hang out with my friends. Many believe the coffee shop is the oldest in Jakarta, Tak Kie, located on Jalan Pintu Besar Selatan, behind the Gloria shopping area, West Jakarta. For me, Tak Kie is part of the Jakarta’s past glory that still remains.
Once this area was used to be one of economic center of Jakarta. Kota, Mangga Dua, Glodok, Gajah Mada, continue to south untill Harmony. In 1960’s it slowly shifted and spreaded to other regions especially South Jakarta. Symbolized by the establishment of the first malls in Jakarta, Sarinah and Hotel Indonesia as the biggest hotel at the time.

I was very impressed. Not spacious, but Tak Kie has it’s own classic and original interiors which quite well preserved. Not to mention the friendliness of the owner, Latif Yusuf, who was abruptly came sit with us. Not only say hello, but engaged in a discussion with us. So close. These two things are diificult to find in a modern coffee shop or restaurant. Thanks for it, the coffee shop frequently used as filming location.

IMG_7241-1

Koh Latif (he did not want to mention his Chinese names) as he was called, told me many things about his coffee shop. Tak Kie is a family business for three generations. Established in 1927 by his grandfather Kwi Liong Chong, a genuine Chinese who migrated from his origin in Guang Zhou, China. It was passed to the second generation, Liong Tjun, until finally now the third generation.

This 62 years old man -who already has three sons and one daughter- told us that he already participated manage the familiy business since teenager. Even in his 23, his father acclaimed him to maintain Tak Kie directly along with his eight siblings. Now he applied the same thing to his line. One memorable story in the late 1950s, at the time selling dollar was almost impossible because the Indonesian goverment which headed by President Sukarno, was having a confontation with the U.S. Tak Kie was believed as one of the place to sell dollars. As a result, the coffee shop raided frequently by the police.

IMG_7223-1

Like other businesses, Tak Kie also have its roller coaster. The toughest period was in 1960s when the economic center shifted. One by one, the coffee shop in Glodok had to closed. But thanks to hard working and keeping the simplicity, Tak Kie survived until now and still has its loyal customer although there’s not so many of them.

Tak Kie open from 6 am to 2 pm and provide iced coffee and iced coffee milk as the main drinks. The shop also sells coffee powder, Lampung, Sidikalang, Aceh. Mandailing coffee and other. It also provides food like chicken rice and chicken porridge. Even so I do not recommend to eat here for the Muslims. According to Koh Latif itself, the spices contain pork.

IMG_9302-1

Actually I don’t care with the dish. If you are kind of people who like to hang out in a places because of its tasty food, padded seat, air conditioned room, free wifi, then you will find it quickly bored here. But if you like me who enjoyed a place since it is able to humanize it’s guests, it has the simplicity and originality, then you are worth to visit Tak Kie. The name itself, Tak Kie, means firm stance and simple. This place became an oasis in the middle of hedonism and individualism of big city life that slowly erode the human values as social beings.

***

Saya bukan penikmat kopi. Tapi Saya langsung “kesengsem” dengan kedai kopi yang satu ini. Beberapa bulan lalu saya datang ke tempat ini pertama kalinya atas ajakan seorang teman untuk sekedar bercengkrama di kedai kopi yang diyakini tertua di Jakarta,Tak Kie. Terletak di Jalan Pintu Besar Selatan, tepatnya di belakang kompleks pertokoan Gloria, Jakarta Barat. Bagi Saya, Tak Kie adalah bagian dari kejayaan Jakarta masa lampau yang masih tersisa. Dulu pusat ekonomi Jakarta berada di kawasan ini, Kota, Mangga Dua, Glodok, Gajah Mada, terus ke selatan sampai Harmoni. Perlahan tapi pasti mulai bergeser dan tersebar ke daerah lain terutama Jakarta Selatan, tepatnya di tahun 1960an yang disimbolkan dengan berdirinya mall pertama di Jakarta, Sarinah dan Hotel Indonesia sebagai hotel berbintang terbesar saat itu.

IMG_9296-1

IMG_9284-1

Saya sangat terkesan saat pertama kali datang kesini. Ruangannya tidak terlalu luas, tapi interior klasik dan orisinil tetap dipertahankan sanggup memancing nuansa nostalgia tersendiri. Belum lagi keramahan sang pemilik, Latif Yusuf, yang saat itu tiba-tiba langsung ikut duduk bersama kami. Bukan hanya sekedar menyapa, tapi mengobrol dan terlibat diskusi. Begitu akrab dan terbuka seolah tak ada jarak. Dua hal inilah yang sangat jarang ditemui di kedai kopi atau rumah makan lainnya. Mungkin karena itu juga tempat ini tak jarang menjadi lokasi syuting film atau iklan.

Koh Latif (beliau tidak mau menyebutkan nama Tionghoanya) begitu ia biasa dipanggil, bercerita banyak hal, salah satunya tentang kedai kopinya itu. Tak Kie adalah usaha keluarga turun-temurun selama tiga generasi. Didirikan pada tahun 1927 oleh kakeknya Liong Kwi Chong, seorang Tioghoa tulen yang bermigrasi dari daerah asalnya di Guang Zhou, Cina. Kemudian diwariskan ke generasi kedua, Liong Tjun, hingga akhirnya sekarang generasi ketiga.

IMG_9279-1

Pria 62 tahun yang sudah memiliki tiga orang putra dan satu orang putri ini bertutur, dari remaja ia sudah ikut serta mengelola usaha keluarganya ini. Bahkan di umur 23 tahun. Ia pertama kali dipercaya oleh sang ayah untuk memegang langsung Tak Kie bersama delapan saudaranya . Dan langkah yang sama juga telah ia terapkan pada anak-anaknya. Salah satu cerita berkesan tentang kedai kopinya yaitu di akhir 1950an. Saat itu di masa pimpinan presiden Soekarno yang sangat membenci semua hal berbau Amerika. Akibatnya berjualan mata uang dolar sangat susah dan harus dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Salah satu tempat yang menjadi langganan untuk berjualan dolar waktu itu di Tak Kie. Efeknya kedai kopi itu sering menjadi target langganan razia polisi.

Layaknya tempat usaha yang lain, Tak Kie juga mengalami pasang surut. Masa terberat yaitu di tahun 1960an saat pusat kegiatan ekonomi bergeser dari kawasan Glodok dan sekitarnya ke daerah Jakarta bagian selatan. Satu per satu kedai kopi di Glodok tutup karena sepi pelanggan. Namun berkat kerja keras dan tetap menjaga kesederhanaan, Tak Kie berhasil selamat hingga sekarang dan tetap memiliki pelanggan loyal walaupun jumlahnya tidak banyak.

IMG_9364-1

IMG_9377-1

Tak Kie buka dari jam 6 pagi sampai jam 2 siang dan menyediakan minuman es kopi serta es kopi susu sebagai suguhan utama. Kedai ini juga menjual kopi bubuk kiloan, mulai dari kopi Lampung, kopi Sidikalang, kopi Aceh. Kopi Mandailing dan yang lainnya, tergantung stok. Selain itu juga menyediakan makanan berupa nasi tim ayam dan bubur ayam. Meskipun begitu Saya kurang merekomendasikan makan disini bagi yang muslim, karena menurut penuturan Koh Latif sendiri bahwa bumbu-bumbu yang digunakan mengandung babi.

Jujur saja, saya tidak terlalu peduli dengan sajiannya. Jika Anda adalah sesorang yang hobi bercengkrama di suatu tempat karena makanannya enak, tempat duduknya empuk, ruangan ber-AC, wifi gratisan, maka sebaiknya tidak perlu repot-repot kesini. Tapi jika Anda seperti saya yang menyenangi suatu tempat karena tempat itu sanggup memanusiakan siapa saja yang datang, karena tempat itu memiliki kesederhanaan dan orisinalitas, maka Tak Kie layak untuk didatangi. Sesuai filosofi namanya, Tak Kie berarti orang yang teguh dan sederhana, tempat ini menjadi oase tersendiri di tengah hedonisme dan individualisme ibukota yang perlahan mengikis jiwa manusia sebagai makhluk sosial.

2 Comment

  1. vibishan says: Reply

    I have been there once and soon fall in love with the t shirts they sell for souvenirs. Too bad, they’re too pricy…

  2. aansmile says: Reply

    really, i didnt know they sell shirts

What's on your mind