Baluran, A Piece of Africa at the end of Java (Sepenggal Afrika di Ujung Jawa)

We were gasped when I found a banner in front of the entrance gate. “Welcome, President of Indonesia to Baluran National Park”. I almost limp. Bad thoughts began to haunt. My long journey to the tip of Java may be wasted just because of one person. But after reading the dates listed below the main text banner, I was relieved. The visit was yesterday. Thank God…

5.30, I and a friend started to exploring with a motorbike riding. We drove along the road, the perforated asphalt interspersed with dirt road, through the Baluran forest, a national park which located in Banyuputih, Situbondo. Baluran is divided into two regions. First region in the east, the one we headed to, composed of three subregion, Perengan, Bama and Balanan. While second region in the west, composed of three regions, Bitakol, Watunumpuk and Labuhanmerak.

1

2

After 9 kilometers traveled with stopping by for several times, either just to try to take a picture of a junge fowl (Gallus sp) which often showed themselves or because the road are quite extreme, we finally arrived in Bekol. Wow, an amazing landscape of a vast savanna. No wonder, this 25000 hectares of national park called as africa van java. 300 hectares of knee-high grass end to end and very vew trees. Just like as I seen in television shows like BBC Knowledge or National Graphic channel.The savanna fills 40% of total landscape, making it as the largest savanna in Java. In this first region there are three savanna, Bekol, Bama and Curahudang, while the Bekol is the most popular. In Bekol we most often found wild fauna. Deer (Cervus timorensis), antelope (Mutiacus muntjak), peacock (Pavo muticus), forest buffalo (Bubalus bubalis), and long-tailed monkeys (Macaca fasciularis). Unfortunately our main target, javanese bull (Bos javanicus) didn’t show itself.

The most iconic scenery here is vast grassland with only a tree that stands in the middle. What is also interesting is the meadow with a mountain as the backdrop, Baluran mountain 1247 ASL. We also stopped by briefly in the Bekol post to look around some of the buildings stood here. The office, guest house, breeding house, and the viewing post on top of the hill located behind the office. From this observation post we can see almost the entire landscape of Baluran. Ranging from tropical forests, grasslands, mountains, mangrove forests, and even at the east coast, the Bali strait. So complete.

5

4

Having feast for the eyes, we proceeded 3 kilometers to our final destination, Bama beach. Later we stayed here. Not far from the guest house, there is a mangrove forest, and became the first exploration targets. We passed a wooden bridge that divide the mangrove forests. It drove us to the edge of the ocean. Mangrove lined along the coast to the south were seen.

Next we explore Bama beach where the water is crystal clear and smooth, almost no waves. The beaches were clean and quiet. The white sand was so tempting me to throw my self in. But suddenly I held my self after seeing a troop of monkey who took the bag one of the visitors. They were so many, wild and did not hesitate to take any bags brought by visitors. A booth behind the inn has already being a victim of their ferocity when competing foods.

6

8

Here visitors can also rent a boat and snorkeling or diving equipment. At least that’s the info we got from the owner of the shop we stopped. However, since I do not (yet) interested in snorkeling or diving, so I did not try it. But at least the information is emphasized how complete the landscape types of Baluran.

In the shop I met and with Nurdin Razak, an owner of ecotourism services, a wildlife photographer, and also a lecturer at the Airlangga University. For ten years he has always been to Baluran at least once a month to hunt wild photo especially fauna. While enjoying fried rice stall which was surprisingly delicious, we hear Udin’s stories, so he was fondly called. Various information about Baluran, including wild animal photos hunting tips we got from him. I also got an answer why I did not found the Javanese bull, favorite fauna here besides the tiger (Panthera pardus) and leopard (Felis bengalensis).

12

13

7

He said there are three things. Firstly because our visiting time was too short. Secondly, since it was a holiday, many visitors, while wild animals tend to be less like the unnatural scent that normally carried by human, perfume for example. So they prefer to live in the deep jungle that relatively unreachable by visitors. Third, because the population is declining due to wild animals hunted. I wonder. How can there be hunting in the national park that is clearly protected. Apparently because the less number of ranger officers compare with the amount area of national park, and also because Baluran directly adjacent to the ocean where the beach is very long and ramps that can anchored by boats. This is where the hunters in and out of the national park entrance.

32

31

By evening, at 18:00 the power has turned on. We maximize it to recharge our battery gadget because the electricity is only on until 23:00 hours. Having dinner with cooking in front of the terrace that directly facing to the beach, we were joined with another visitor on the shoreline, just laid down on the sand enjoying millions of flickering stars while accompanied by the sound of wave lapping the beach. What a grace. An impossible thing in urban areas.

Next day, we both withdrew after enjoying the beautiful sunrise. No taking pictures this time, we had to catch the train to Banyuwangi which will lead us to Surabaya. It is a pleasure, finally I can drove my self to visit the mini-africa at the eastern end of Java. But its a pity since we did not have enough time to explore. What we’ve encountered is common landscapes. There are still so many object we haven’t visit yet. Japanese caves, Bilik Sijile beach, Kacip rivers, Baluran mountain and many more. As we left, I kept my self promise to come here again.

30

29

27

28

***

Kami terkesiap ketika mendapati sebuah spanduk di depan gapura pintu masuk. “Selamat datang Presiden RI di Taman Nasional Baluran”. Begitu tulisan di spanduk tersebut. Saya nyaris lemas. pikiran buruk mulai menghantui. Perjalanan jauh Saya ke ujung Jawa ini bisa sia-sia hanya karena satu orang. Tapi setelah membaca tulisan tanggal kunjungan yang tertera dibawah tulisan utama spanduk, Saya pun lega. ternyata kunjungannya kemarin. Syukurlah.

Jam 5.30, Saya dan seorang teman memulai penjelajahan dengan mengendarai motor. Kami melaju menelusuri jalan aspal rusak berseling jalan tanah bebatuan menembus rimba taman nasional yang terletak di Banyuputih, kabupaten Situbondo ini. Baluran terbagi menjadi dua wilayah. Wilayah 1 di sebelah timur, tempat kami masuk, menaungi tiga subwilayah, Perengan, Bama dan Balanan. Sedangkan wilayah 2 di sebelah barat, menaungi tiga wilayah, Bitakol, Watunumpuk dan Labuhanmerak.

14

15

Setelah 9 kilometer perjalanan dengan sempat beberapa kali berhenti, baik sekedar untuk mencoba mengambil gambar ayam hutan (Gallus sp) yang sering menampakkan diri atau karena jalanan yang cukup ekstrim, akhirnya kami sampai di pos Bekol. Wow, inilah pemandangan lanskap yang membuat taman nasional seluas 25000 hektar ini dijuluki africa van java. Ya Afrika nya Jawa. Padang sabana mengisi 40% lanskap disini, membuatnya sebagai padang sabana terluas di pulau Jawa. Di wilayah 1 ini ada tiga sabana, Bekol, Bama dan Curahudang. Namun dari ketiganya, Bekol adalah yang paling populer. Lanskap seluas 300 hektar berupa ilalang yang rata hanya setinggi lutut dari ujung ke ujung dan sedikit sekali pohon,membuatnya mirip sekali dengan lanskap hutan afrika. Persis dengan yang sering Saya tonton di tayangan ilmu pengetahuan di saluran tv seperti BBC Knowledge atau National Geographic. Disinilah kami paling sering menjumpai fauna liar. Mulai dari rusa (Cervus timorensis), antelop (Mutiacus muntjak), burung merak (Pavo muticus), kerbau hutan (Bubalus bubalis), dan monyet berekor panjang (Macaca fasciularis). Namun sayang target utama untuk melihat banteng jawa (Bos javanicus) gagal terwujud.

Pemandangan paling ikonik disini adalah padang rumput luas dengan hanya sebuah pohon yang berdiri tegak di tengahnya. Yang juga menarik adalah padang rumput dengan latar belakang gunung Baluran setinggi 1247 mdpl. Berfoto-foto disini wajib hukumnya, dan kami pun dengan ikhlas menaati hukum tersebut. Kami juga mampir sejenak di pos Bekol untuk melihat-lihat beberapa bangunan yang berdiri disini. Mulai dari kantor taman nasional, wisma penginapan, tempat penangkaran, sampai dengan gardu pandang di atas bukit yang terletak di belakang kantor. Dari gardu pandang inilah kami dapat menyaksikan hampir seluruh lanskap Baluran. Mulai dari hutan tropis, padang rumput, gunung, hutan bakau, bahkan disebelah timur tampak pantai yang berbatas laut selat Bali. Sangat komplit.

17

18

19

Puas memanjakan mata, kami melanjutkan perjalanan 3 kilometer ke tujuan akhir, pantai Bama, tempat kami menginap nanti malam. Tak jauh dari penginapan, terdapat sebuah hutan bakau, dan menjadi target eksplorasi pertama. Kami melewati sebuah jembatan kayu membelah hutan bakau yang mengantarkan kami ke pinggir lautan lepas. Disinilah tampak mangrove berderet sepanjang pantai ke arah selatan.

Berikutnya kami menjelajah pantai Bama yang airnya jernih dan sangat tenang, nyaris tanpa ombak. Kondisi pantai yang bersih, relatif sepi dan pasir putihnya semakin menggoda Saya untuk menceburkan diri. Tapi niat terurung setelah melihat sendiri sekawanan monyet yang mengambil tas salah seorang pengunjung. Saya baru tersadar, monyet disekitar pantai sangat banyak dan mereka tidak segan untuk mengambil tas atau apapun yang dibawa oleh pengunjung. Sebuah warung tenda yang berada di belakang penginapan tak luput menjadi korban keganasan mereka ketika saling berebut makanan.

20

21

Disini pengunjung juga bisa menyewa kapal dan alat snorkling atau diving. Setidaknya itu info yang kami dapat dari pemilik warung makan yang kami singgahi. Namun berhubung Saya tidak (belum) tertarik untuk snorkling atau diving, maka Saya pun tidak mencobanya. Namun setidaknya informasi tersebut semakin menegaskan betapa lengkapnya jenis obyek eksplorasi yang dimiliki Baluran.

Di warung yang sama Saya bertemu dan berkenalan dengan mas Nurdin Razak, seorang pemilik jasa ecotourism, seorang fotografer alam liar, dan sekaligus dosen di Universitas Airlangga. Sudah sepuluh tahun lebih ia selalu berkunjung ke Baluran minimal sebulan sekali untuk berburu foto alam liar terutama faunanya. Sambil menikmati nasi goreng di warung yang ternyata enak, kami mendengarkan cerita mas Udin, begitu ia akrab dipanggil. Berbagai informasi tentang Baluran, termasuk tips berburu foto hewan liar kami dapatkan darinya. Saya pun juga mendapatkan jawaban kenapa Saya tidak menjumpai banteng jawa yang menjadi fauna primadona disini, selain macan (Panthera pardus) dan macan tutul (Felis bengalensis).

22

23

25

Menurutnya ada tiga hal. Pertama karena waktu kunjungan yang terlalu singkat. Kedua, karena saat itu sedang hari libur sehingga banyak pengunjung, sementara hewan liar cenderung kurang suka dengan aroma yang tidak alami yang biasa dibawa manusia, parfum contohnya. Jadi mereka lebih suka menetap di pedalaman hutan yang relatif kurang terjamah manusia di hari libur. Ketiga, karena jumlah populasi hewan liar yang menurun akibat diburu. Saya heran. Bagaimana bisa ada perburuan dilakukan di dalam taman nasional yang jelas-jelas dilindungi. Ternyata karena jumlah petugas ranger yang tidak sebanding dengan luas taman nasionalnya, dan juga karena Baluran berbatasan langsung dengan lautan dimana pantainya sangat panjang dan landai sehingga bisa didarati perahu. Dari sinilah para pemburu keluar masuk taman nasional.

Menjelang malam, jam 18.00 listrik mulai dinyalakan. Kami pun memanfaatkan untuk mengisi ulang batre HP dan kamera sebaik mungkin karena listrik hanya menyala sampai jam 23.00 saja. Usai makan malam dengan memasak di depan teras yang berhadapan langsung dengan pantai, kami bergabung dengan pengunjung lain di bibir pantai untuk sekedar berbaring diatas pasir menikmati jutaan kerlip bintang sambil ditemani suara debur air pantai. Sebuah hal yang nyaris mustahil dijumpai di daerah perkotaan.

26

34

Esok harinya setelah puas menikmati sunrise yang begitu cantik, kami berdua undur diri. Kali ini gas pol dan tanpa acara foto-foto, karena kami harus mengejar kereta ke Banyuwangi yang akan mengantarkan kami ke Surabaya. Sungguh suatu kenikmatan tersendiri akhirnya bisa mengunjungi afrika mini di ujung timur Jawa ini. Hanya sayang karena kami tidak memiliki waktu yang cukup untuk menjelajah. Apa yang kami jumpai hanyalah rute umum yang hanya sepersekian dari seluruh keindahan dan petualangan yang ditawarkan. Gua Jepang, pantai Bilik Sijile, sungai Kacip, gunung Baluran dan masih banyak lagi spot yang belum sempat dijejaki. Dalam hati Saya berjanji untuk berkunjung lagi kesini.

33

IMG_5998_1

6 Comment

  1. vibishan says: Reply

    Marvelous!

  2. aansmile says: Reply

    thank you…so, ijen?

  3. eni says: Reply

    ini keren banget an

    1. aansmile says: Reply

      prnh kesini en?

  4. sin sin says: Reply

    Foto2nya keren!
    Ini lg ngrayu bini spy mau ke baluran 🙂
    Kapan2 klo mau adain arau bikin trip, ajak2 saya dong.. sapa tau bs join 🙂
    Email saya: erwin.sinsin@gmail.com

    Thank u.

    1. Alfian W.S (Aan) says: Reply

      halo mas Erwin,
      terima kasih sudah berkunjung ke blog saya. berhubung masih belum terlalu lama ke Baluran nya, jadi mungkin saya tidak akan kesana dalam waktu dekat ini.he2..
      prioritas ke tempat yang belum pernah dikunjungi dulu.monggo, jangan menyerah ngrayu istri nya. semoga berhasil. gudlak…

What's on your mind