Menaklukkan Diri Di Tanah Tertinggi Jawa

Sama seperti manusia, setiap perjalanan itu unik. Ia menimbulkan kesan yang berbeda bagi pelakunya. Bisa karena destinasinya, pemandangannya, orang-orangnya atau berbagai peristiwa yang mengiringinya. Namun bagi Saya perjalanan menuju tanah tertinggi Jawa kali ini berkesan kuat karena perjuangannya. Ini adalah perjalanan kedua Saya setelah tahun lalu antiklimaks, gagal ke puncak. Saatnya membayar hutang.

Sukses menjadikan Matarmaja ekspres sebagai rumah sementara selama tujuh belas jam, perjalanan berlanjut dari Malang ke Tumpang selama satu jam. Membuang waktu lima jam di Tumpang, yang seharusnya cuma dua jam gara-gara canda berlebihan seorang teman, akhirnya kami melanjutkan perjalanan ke Ranu Pani selama hampir dua jam menggunakan truk terbuka. Meskipun diguyur hujan, sendau gurau diantara kami seolah menjadi kehangatan tersendiri. Setengah jam menjelang maghrib, perjalanan sesungguhnya dimulai. Trekking malam dengan beban hampir lima belas kilogram di pinggang menuju Ranu Kumbolo selama enam jam melalui medan becek sukses dijalani. Malam pertama di danau Ranu Kumbolo.

IMG_6020
Dalam truk menuju Ranu Pane.
IMG_6365
Terjal dan licin.

Subhanallah. Berkat cuaca cerah, pagi pertama di Ranu Kumbolo kami lalui dengan penuh pesona. Begitu indah. Tapi perjalanan harus berlanjut. Setelah menguji ketangguhan kaki menaiki Tanjakan Cinta, keindahan lain tersaji di hadapan kami. Oro-oro Ombo, sebuah padang rumput luas menghampar. Tak lama, kedua kaki ini harus diuji oleh rute menanjak hutan Cemoro Kandang. Setelah empat jam berjalan akhirnya kami sampai di Kalimati, tanah lapang luas tempat kami membuat tenda dan beristirahat menyiapkan fisik untuk mendaki ke puncak malam harinya.

IMG_6094
Ranu Kumbolo.
IMG_6081
Ranu Kumbolo.
IMG_6089
Ranu Kumbolo.
IMG_6118
Meninggalkan Ranu Kumbolo.

Diawali dengan panjatan doa, pukul sebelas malam kami melangkahkan kaki menapaki perjalanan puncak kami ke Mahameru. Satu jam berlalu, Arcopodo kami lewati. Ujian sesungguhnya ada di depan kami. Tidak ada lagi vegetasi. Hanya medan pasir. Awalnya pasir masih padat. Kami masih bisa berjalan dengan tegak. Namun semakin keatas pasir semakin lembut dan sulit dipijak. Tiap dua-tiga langkah naik pasti turun selangkah. Rombongan kami yang awalnya berkelompok pun terpecah. Akhirnya kedua tangan pun dipaksa menjadi kaki. Merangkak menjadi pilihan yang lebih baik. Selain lebih kuat untuk menopang tubuh juga untuk mengurangi terpaan angin malam.

IMG_6123
Tanjakan Cinta.
IMG_6136
Oro-Oro Ombo.
IMG_6145
Bukan Lavender.
IMG_6168
Menuju Kalimati.
IMG_6171
Hutan Cemoro Kandang.

Sudah jam dua pagi. Saya mendongakkan kepala ke atas. Titik-titik lampu pendaki di atas seolah terlihat seperti jalur menuju ke puncak. Ya Tuhan, masih belum terlihat ujungnya. Kondisi sungguh tak menyenangkan. Suasana gelap, kiri kanan jurang tak terlihat, perut kelaparan, hawa dingin, hembusan angin, rasa kantuk yang merasuk dengan hebat, serta kedua pasang kaki dan tangan yang kelelahan. Nafas dan jantung semakin tersengal. Istirahat terlalu lama hanya akan membuat hawa dingin menyergap dengan cepat. Saat inilah fisik benar-benar diuji sampai batasnya. Namun yang mendapatkan ujian paling berat adalah mental. Setan macam apa yang merasuk ke dalam diri sampai mampu membuat Saya mau melakukan semua ini. Seandainya tidak ikut naik, mungkin yang sedang Saya lakukan saat ini adalah memegang sepiring mie rebus hangat dan segelas teh susu. Sampai kapan berakhir? Saya ingin pulang…menyerah…

Pikiran menyerah berlalu-lalang Keinginan untuk membuktikan pada diri sendiri serta keyakinan bahwa Tuhan maha adil, bahwa Tuhan akan memberikan hadiah istimewa bagi mereka yang pantang menyerah menjadi satu-satunya penyambung asa. Tiba-tiba Saya teringat saran seorang teman pendaki yang Saya temui sehari sebelumnya. Ia menyarankan dua hal. Pertama, ketika merangkak sebaiknya disertai dengan pola teratur. Misal tiap tiga puluh langkah berhenti dua menit untuk menormalkan pernafasan, begitu seterusnya. Kedua, jangan terlalu sering melihat keatas. Selain akan membuat leher pegal juga akan menurunkan semangat karena melihat puncak yang seolah tiada akhir.

Saya coba praktekkan dan tak butuh lama merasakan hasilnya. Langkah terasa lebih ringan. Saya sukses menyalip beberapa pendaki diatas Saya. Tak terasa sudah jam setengah lima pagi. Di ufuk timur langit mulai memerah. Sesaat kemudian samar-samar, kecil, kibaran bendera mulai terlihat. Seketika nyala api kecil dalam diri membesar. Akhirnya jam lima lebih dua puluh, kedua kaki menapak di 3676 MDPL, Mahameru. Di langit timur, matahari terbit masih menyisakan indahnya menyambut kedatangan Saya. Sontak air mata membasahi pipi. Seorang pendaki yang sudah lebih dahulu tiba, tiba-tiba mendekat Ia seolah tahu Saya berusaha menahan lelehan air mata agar tidak mengalir lebih kencang. Sambil berlalu ia berkata sesuatu. “Ga usah ditahan mas. Manusiawi kok. Biar lega, biar puas”.

IMG_6180
Matahari terbit di Puncak Mahameru.
IMG_6206
Cukup ramai.
IMG_6214
Asap aktifitas vulkanik.

Entah bagaimana Saya menuruti kata-katanya. Spontan sambil bersujud, air mata deras mengalir. Segala puja-puji akan kebesaranNya terpanjatkan. Setelah bangun dari sujud rasanya semua beban dan lelah seolah terangkat. Yang ada hanya haru, lega, gembira, dan bahagia bercampur. Belum pernah badan ini terasa lepas dan seringan ini sebelumnya, sungguh. Tiba-tiba kawah Jonggring Saloka meletuskan asapnya. Para pendaki seketika berkerumun untuk menyaksikan sekaligus mengabadikan fenomena ini. Saya hanya bisa terpana, kagum. Sambil mencari teman-teman serombongan yang terpisah, Saya menyusuri pinggiran Mahameru untuk melihat ke bawah sana. Pemandangan dari atas awan selalu luar biasa. Betapa luasnya ayat-ayat Tuhan terhampar di depan mata. Betapa kecilnya manusia dibanding semua ini. Apa lagi yang bisa Saya sombongkan. Percaya atau tidak, rasa sebagai makhluk yang ingin mengabdi pada penciptanya itu sungguh ada, dan itu mendamaikan. Mahameru sadarkan angkuhnya manusia, begitu kata Dewa19. Sementara di sisi Mahameru yang lain tampak beberapa pendaki melakukan upacara bendera sambil menyanyikan Indonesia Raya. Walaupun terlambat Saya bergabung dengan mereka. Belum pernah Saya menyanyikan lagu kebangsaan sekhidmat ini. Dalam hati Saya berdoa agar diberikan kemampuan untuk terus menjelajah, mencintai, merawat dan mejaga negeri ini.

IMG_6249
Upacara bendera.
IMG_6252
Pemandangan dari Puncak Mahameru.
IMG_6277
Bersantai.
IMG_6290
Rekan seperjuangan.

Tak lama, rombongan kami sudah berkumpul. Setelah puas mengambil gambar kami segera turun menuju Kalimati. Baru satu jam yang lalu rute yang sama sepanjang 2,7 kilometer kami lewati selama enam jam. Sekarang kami melaluinya tidak sampai dua jam. Itupun termasuk istirahat dan mengabadikan gambar. Selanjutnya kami menghabiskan waktu dua hari dua malam lagi kembali ke ibukota, ke dunia nyata. Terima kasih kepada kedua kaki ini yang telah membawa Saya berjalan kaki sejauh empat puluh kilometer lebih dalam perjalanan epik ini.

IMG_6321
Jurang di kiri dan kanan.
IMG_6331
Kalimati.
IMG_6357
Kabut turun.
IMG_6354
Pulang.

Bagi saya yang paling berkesan dari perjalanan ini adalah perjuangan penaklukkannya. Rasa syukur terbesar ketika diberi kesempatan merasakan semua rasa campur aduk di atas sana. Dan seperti ketika mendaki pasir Mahameru, begitulah kehidupan. Berat dan penuh tantangan yang menguji kemampuan sampai batas akhir. Tapi keberhasilan hanya diberikan kepada mereka yang terus berjuang, karena Tuhan Maha Adil. Apapun kesulitan yang dihadapai, Saya akan selalu mengingat enam jam perjalanan penuh perjuangan itu untuk kembali tegar dan tidak putus asa.

IMG_6308

2 Comment

  1. gita says: Reply

    aaaaaak bagus bagus fotonya 🙂

    1. Alfian W.S (Aan) says: Reply

      tengkyuh udah berkunjung. jadi kapan kita wujudkan KI gunung? he2..

What's on your mind