Mini Adventure in Mataram Canal (Petualangan Kecil di Selokan Mataram)

In 1942, Japan armed force pushed into Indonesia and began to build strength through the forced labor known as romusha to the Indonesian people. To prevent this miserable work,the king of Mataram Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubuwono IX argued to Japan that the land was dry and needs watering. Japan agrees and Sultan immediately ordered to build a long water channel well known as Selokan Mataram (Mataram Canal).

SelokanMataram3 (2)

SelokanMataram9 (2)

70 years later, the canal that divides along 31 km of Yogyakarta is still draining the water out of it’s source in Kali Progo (Progo River) and ends in the east, in Kali Opak (Opak River). For those who had lived in Yogyakarta for some time would know these waterways, even some may have take  an explore. Exploring along the Mataram Canal could be a mini adventure. Witnessing the typical rural landscape such as paddy fields, cattle herders, and kind of it, will be very easy to find and may become an unique entertainment for the urbanian especially for those who traveling and photography enthusiast.

SelokanMataram1 (2)

SelokanMataram10 (2)

If you have a lot of time, it would be pleased to follow down the canal on bike. Thanks to inspection road along the waterways. Once it was built for checking the drains. But recently its expanding as well as a link between the regions. It is recommended to explore it twice toward west on morning and east on the evening. The direction of the sunlight is the main reason especially for the photography enthusiast.

SelokanMataram2 (2)

SelokanMataram13 (2)

Some time ago in 2012, along with several colleagues I did an exploration. Start from the city center in Magelang Street we set off at 5.30 in the morning. The weather was a bit overcast. But it did not dampen us to explore this silent witness of the struggle of the locals against the Japanese invaders. The view of green fields were outspread. In some places, the bike riding farmer and also bathing animals were seen. Since the day was approaching of Eid feast, the most frequent seen activity was the people who were washing the mats in preparation for Eid pray. Other activities were fish catching. It was dry season, the water level was quite shallow. It’s easier to catch the fish by fishing rods, nets and even hand. The people was abuzz plunging into the water joyfully.

SelokanMataram4 (2)

SelokanMataram7 (2)

SelokanMataram6 (2)

Entering the Ngluwar village, Magelang district, not far from the canal, there is an unique suspension bridge and too good to be missed. We spent some time to see the bridge that also called Duwet Bridge. The bridge is crossing above Kali Progo and making a connection between Ngluwar and Banjarharjo village in Kulonprogo district. It is narrow and old, which practically only two-wheeled vehicles and pedestrians able to cross.

SelokanMataram11 (2)

SelokanMataram12 (2)

The trip finally ended at the Karang Talun Dam, or commonly called Ancol which located in the Ngluwar village, Magelang district. The water flowed by the dam from Kali Progo along the canal . It often used for rafting when the water stream is heavy.

SelokanMataram14 (2)

At the evening, I took down to eastward. Started from Magelang Street, Kaliurang, to Gejayan. This route evoked an old memories since I took this route regularly when I still at the college. From the UGM campus building, food stalls, dormitory and other buildings stands along the canal. Next, to east towards district Babarsari, shops and residential buildings still dominates. No wonder, the location is near to the campus area. After Babarsari, about 5 kilometers there’s a bridge commonly called Babarsari bridge. It’s unique shape and rock-composed construction allows the hobbiest to do rock climbing.

SelokanMataram16 (2)

Green carpet of paddy fields began to appear when entering the Maguwoharjo area. This eastward route is not as long and heavy as westward. The inspection road is always on the side of the canal. But at least three times I had to turn around to get back into it, since it crossed the ring road twice, the North RingRoad and Jogja-Solo highway, and as it passed under the railways.

SelokanMataram15 (2)

The journey finally ended at the Kali Opak. The Mataram Canal drain it’s water into Kali Opak which then taken to the Indian Ocean. The scenery is so refreshing. Bukit Ijo (Ijo Hills) at the southern of Kali Opak, paddy fields stretching and people herding goats on the edge of Kali Opak were seen.

SelokanMataram17 (2)

Exploring the Mataram Canal can provide us an unique experience. We can enjoy the scenery along the canal as well as to memorize the struggle of Mataram against the colonialism.

***

Tahun 1942, Jepang masuk ke Indonesia dan mulai membangun kekuatan dengan mempraktekkan kerja paksa (romusha) pada rakyat Indonesia. Untuk menghindarkan rakyatnya dari romusha yang menyengsarakan, Raja Mataram Yogya waktu itu, Sri Sultan Hamengkubuwono IX berdalih pada Jepang bahwa tanah Yogya kering dan membutuhkan pengairan. Jepang setuju dan Sultan segera memerintahkan membangun sebuah saluran air panjang yang kemudian dinamakan Selokan Mataram.

SelokanMataram18 (2)

70 tahun kemudian, Selokan Mataram sepanjang 31km yang membelah Provinsi Yogyakarta masih utuh dan mengalirkan airnya dari pangkalnya di Kali Progo dan berakhir di timur, di Kali Opak. Bagi mereka yang pernah tinggal di Yogyakarta dalam waktu yang lama pasti mengenal saluran air ini, bahkan mungkin pernah menjelajahinya. Menyusuri Selokan Mataram bisa menjadi sebuah petualangan mini. Menyaksikan pemandangan khas pedesaan seperti persawahan, penggembala ternak, dan sejenisnya, sangat mudah ditemui dan menjadi hiburan tersendiri bagi orang kota khususnya bagi pecinta traveling dan fotografi.

SelokanMataram19 (2)

Jika punya waktu luang, menyusuri Selokan Mataram paling asik dengan sepeda. Hal ini tak lepas berkat adanya jalan inspeksi sepanjang pinggir Selokan Mataram. Dulu fungsi utamanya sebagai sarana untuk pemeriksaan saluran air. Namun sekarang berkembang fungsinya juga sebagai penghubung antar wilayah. Bila ingin menyusuri Selokan Mataram, sebaiknya dilakukan dua kali, ke arah barat dan timur. Untuk arah barat sebaiknya dilakukan pagi hari dan ke arah timur sore hari. Pertimbangannya adalah mendapatkan arah sinar matahari dari belakang supaya menghasilkan efek cahaya yang dramatis, terutama bagi pecinta fotografi.

SelokanMataram20 (2)

Beberapa waktu yang lalu di bulan puasa 2012, Saya bersama beberapa rekan menyempatkan untuk menyusuri Selokan Mataram ke arah barat. Dimulai dari pusat kota di Jalan Magelang, tepat jam 5.30 pagi kami berangkat. Cuaca yang agak mendung tidak menyurutkan semangat untuk menjelajah saksi bisu perjuangan rakyat Mataram melawan penjajah Jepang ini. Pemandangan sawah hijau langsung terhampar. Di beberapa tempat, tampak petani yang sedang mengayuh sepeda dan ada juga yang sedang memandikan hewan ternak. Karena mendekati Idul Fitri, aktifitas yang paling sering kami temui saat itu yakni warga yang sedang mencuci tikar dalam rangka persiapan solat Id. Aktifitas lain yang juga banyak dilakukan penduduk adalah menangkap ikan. Karena sedang musim kemarau, jadi air tidak terlalu tinggi. Kondisi ini memudahkan warga untuk menangkap ikan. Mulai dari pancing, jaring bahkan ada yang menggunakan tangan, warga beramai-ramai menceburkan diri ke Selokan dengan riang gembira.

SelokanMataram21 (2)

Memasuki desa Ngluwar, kabupaten Magelang, tak jauh dari Selokan Mataram terdapat sebuah jembatan gantung yang cukup unik dan terlalu sayang untuk dilewatkan. Kami pun menyempatkan diri untuk melihat jembatan gantung yang sering disebut dengan jembatan Duwet. Jembatan ini melintas diatas Kali Progo dan menghubungkan antara desa Ngluwar dengan desa Banjarharjo, kabupaten Kulonprogo. Karena tidak terlalu lebar dan usianya yang sudah tua, praktis hanya kendaraan roda dua dan pejalan kaki yang boleh melintas.

Perjalanan akhirnya selesai di bendungan Karang Talun, atau biasa disebut dengan Ancol. Terletak di Desa Ngluwar, kabupaten Magelang, disinilah sumber air Selokan Mataram yang dialirkan oleh bendungan dari Kali Progo. Jika sedang tinggi permukaan airnya, aliran di Kali Progo ini cukup deras dan sering digunakan untuk arung jeram.

SelokanMataram22 (2)

Sore harinya, Saya menyusuri Selokan Mataram ke arah timur. Dimulai dari Jalan Magelang, Jalan Kaliurang, hingga Jalan Gejayan. Rute ini membangkitkan kenangan lama ketika masih kuliah dulu karena rute ini sering dilewati. Mulai dari bangunan kampus UGM, warung makan, rumah kos dan bangunan lainnya berdiri di sepanjang pinggir Selokan Mataram. Terus ke timur menuju daerah Babarsari, bangunan usaha dan pemukiman masih mendominasi. Wajar karena lokasinya berdekatan dengan kawasan kampus. Lepas daerah Babarsari, sekitar 5 kilometer, ada sebuah jembatan biasa disebut dengan jembatan Babarsari. Bentuknya yang unik dan konstruksinya yang tersusun dari batuan membuat jembatan ini sering digunakan untuk berlatih panjat tebing.

SelokanMataram23 (2)

Hamparan sawah luas mulai terlihat saat memasuki daerah Maguwoharjo. Jalur ke arah timur ini memang tidak sepanjang dan seberat ke arah barat. Di jalur timur ini jalan inspeksi selalu berada di pinggir Selokan. Namun setidaknya tiga kali Saya harus memutar untuk kembali menuju Selokan Mataram, yaitu saat memotong dua jalan raya, Jalan Ringroad utara dan Jalan Jogja-Solo, serta saat melintas dibawah rel kereta.

Penyusuran akhirnya berakhir di Kali Opak. Disinilah Selokan Mataram berakhir, mengalirkan airnya ke Kali Opak yang kemudian dibawa ke Samudra Hindia. Pemandangan yang menyegarkan tersaji. Disisi selatan Kali Opak terdapat bukit yang biasa disebut bukit Ijo, sawah-sawah terhampar dan saat itu tampak warga sedang menggembalakan kambingnya di pinggir Kali Opak.

Menjelajah Selokan Mataram akan memberikan pengalaman tersendiri. Selain menikmati pemandangan di sepanjang salah satu lanskap Yogyakarta ini juga sebagai sarana untuk mengenang kembali perjuangan rakyat Mataram meraih melawan penjajahan.

Indonesian-based photographer and story teller

What's on your mind