The Forgotten Bumi Geulis (Bumi Geulis yang Terlupakan)

10 pass 5 minutes, the snakey iron started to leaving Bogor station. Bumi geulis ,that it was given a name. Not as popular as other trains such as Argo or even with it’s brother, Jakarta-Bogor commuter trains. Understandably, it’s operation area are not so kind of busy. The train was first inagurated in December 2008 by the Minister of Transportation at that time, Jusman Syafii Djamal, serving Sukabumi-Bogor route in return, which is taken within 2 hours.

Together with two mates, finally we were lucky to enjoy Bogor-Sukabumi railway route. As the train lovers who have explored 90% of railway route in Java, this route include the 10% remaining. Quite a while ago I was looking forward to this opportunity. Since the regular schedule is depart from Sukabumi to Bogor at 5.00 to 7.00, and then depart back from Bogor to Sukabumi at 17.00 to 19.00, decidedly less friendly for me who make a living in the capital who had time off only on Saturday and Sunday, mean while I want to explore the route in return just in one day. The opportunity finally arrived ahead of the Eid holiday. PT KAI as the owner of the train held the additional schedule just for one week before and after Eid. The addition was from Bogor to Sukabumi at 10.00 to 12.00 and then departed again from Sukabumi to Bogor at 13.00 to 15.00.

4

2

With ten thousand rupiah of ticket, it was not just the three of us were so enthusiastic. There were many community railfans  who also want to enjoy the Bumi Geulis, even seems like the number more than the regular passengers. We were lucky to sit in the cabin so we can more freely enjoy the view, with the officer’s permission of course. As I kept watching nature Javanese view-dominated by fields, rivers, mountains and the occasional settlement, I squeezed in a chat with one of the officers. From him I knew that the Bumi Geulis already aged. Made in 1982, this KRD (rail diesel train) was originally Prambanan express serving the Yogya-Solo route, until four years ago it was switched to Bogor-Sukabumi. No wonder, it looks old and rusty everywhere, coupled with groan engines such as running out of breath. Even in 2011, the Bumi Geulis had not been operating for more than a month because of broken engine. At that time, people who used to rely on this six cars  trains was forced to switch to another modes inevitably, since it is the only train that crossed the route Bogor-Sukabumi. It answered the question in mind, why were the kids on the edge of the rail looks much more excited to see the train rather than the children in the other routes. Yes, since in a day they only saw the passing train for twice.

15

5

Finally at 12 noon, we arrived at Sukabumi station as the final stop. We were right down and towards the counter to buy the ticket back to Bogor for next an hour. To spend the time, I walk a little bit a time to look outside the station. The atmosphere is so typical of Dutch heritage. Besides the station itself, there’s a traditional market standing right outside with it’s Dutch typical urban structure. Unfortunately since it was fasting month, so we did not have time to culinary tourism. 13:00, the old train drove us leaving the Sukabumi station, as well as it raises a question for me as the people who make a living in the capital. When the government began to seriously fix the mass transportation?

***

Pukul 10 lebih 5 menit, si ular besi ini mulai merayap meninggalkan Stasiun Bogor. Bumi Geulis, begitulah ia diberi nama. Memang tak sepopuler kereta lain seperti Argo atau bahkan dengan saudaranya, kereta commuter  Jakarta-Bogor. Maklum wilayah operasinya bukan daerah ramai. Kereta yang diresmikan pertama kali pada Desember 2008 oleh Menteri Perhubungan waktu itu, Jusman Syafii Djamal, melayani rute Sukabumi-Bogor, PP, yang ditempuh dalam 2 jam.

7

8

Bersama 2 orang teman sesama hobi menjelajah, kami cukup beruntung akhirnya bisa menikmati rute rel Bogor-Sukabumi. Sebagai penikmat kereta yang sudah menjelajahi 90% jalur kereta di Pulau Jawa, rute ini termasuk sisa 10%. Sudah cukup lama Saya menantikan kesempatan ini. Dengan jadwal reguler dari Sukabumi jam 5.00, sampai di Bogor jam 7.00, lalu diberangkatkan kembali dari Bogor jam 17.00 dan tiba di Sukabumi jam 19.00, jelas kurang bersahabat bagi Saya yang mencari nafkah di ibukota yang punya waktu libur hanya di Sabtu-Minggu, sementara Saya ingin menjelajah Bogor-Sukabumi pulang pergi hanya dalam satu hari saja. Akhirnya kesempatan itu tiba menjelang libur lebaran, PT KAI sebagai empunya kereta menambah jadwal perjalanan khusus hanya selama 1 minggu sebelum dan sesudah lebaran. Penambahan keberangkatan dari Bogor jam 10.00 sampai di Sukabumi jam 12.00 lalu diberangkatkan lagi dari Sukabumi jam 13.00 dan tiba di Bogor jam 15.00, jelas membantu Saya menyalurkan hobi menjelajah.

9

10

Diatas kereta dengan tiket sepuluh ribu rupiah ini, ternyata bukan hanya kami bertiga yang begitu antusias. Ada banyak anggota komunitas railfans (sebutan komunitas pecinta kereta) yang juga ingin menikmati Bumi Geulis, bahkan sepertinya lebih banyak daripada penumpang aslinya. Kami cukup beruntung bisa duduk di kabin jadi bisa lebih leluasa menikmati pemadangan, dengan seijin petugas tentunya. Sambil tak hentinya memandangi alam khas Jawa yang didominasi sawah, sungai, gunung dan sesekali pemukiman, Saya sempatkan ngobrol dengan salah satu petugas.  Dari beliau Saya tahu bahwa Bumi Geulis sudah cukup tua. Dibuat pada tahun 1982, KRD (kereta rel disel) ini awalnya adalah Prambanan Ekspres yang melayani rute Yogya-Solo yang kemudian dialihkan ke Bogor-Sukabumi empat tahun yang lalu. Pantas saja gerbongnya terlihat renta dan berkarat dimana-mana, ditambah dengan erangan mesin yang seperti kehabisan nafas. Bahkan pada 2011 yang lalu Bumi Geulis pernah tidak beroperasi selama sebulan lebih gara-gara rusak. Saat itu warga yang biasa mengandalkan kereta yang memiliki enam rangkaian gerbong ini harus beralih ke moda transportasi lain. Mau tak mau, karena memang kereta inilah satu-satunya yang melintas di jalur Bogor-Sukabumi. Hal ini yang menjawab pertanyaan dalam benak Saya dari tadi, kenapa anak-anak di pinggir rel terlihat jauh lebih antusias melihat kereta daripada anak-anak di jalur kereta lain. Ya, karena dalam sehari mereka memang hanya dua kali melihat kereta melintas.

14

11

Akhirnya tepat jam 12 siang, sampai juga di Stasiun Sukabumi sebagai pemberhentian terakhir. Kami pun segera turun dan menuju loket untuk membeli tiket kereta kembali ke Bogor 1 jam lagi. Untuk mengabiskan waktu, Saya sempatkan berjalan-jalan sebentar melihat ke luar stasiun. Suasana khas peninggalan Belanda langsung terasa. Selain arsitektur bangunan stasiun itu sendiri, tepat di luar berdiri sebuah pasar tradisonal dengan struktur perkotaan khas peninggalan Belanda. Sayangnya karena waktu itu bulan Puasa, jadi kami tak sempat melaksanakan ritual wajib saat menjelajah, wisata kuliner. Tepat jam 13.00, erangan kereta tua mengantarkan kami meninggalkan stasiun Sukabumi sekaligus memunculkan kembali pertanyaan besar yang menghantui Saya sebagai warga yang mencari nafkah di ibukota. Kapan pemerintah mulai serius membenahi transportasi masalnya?

13

12

4 Comment

  1. wibi says: Reply

    Gue udah lama banget pengen ngejajal rute ini… Ampe sekarang belum kesampean….. 🙂

    Foto yyg kaca jendelah pecah keren…

    1. aansmile says: Reply

      pemandangannya sih biasa aja. cm karena penasaran blm prnh nyobain rutenya aja

  2. Senyum anak-anak di pinggir rel keliatan bahagia banget 😀

    1. Maklum saat itu jarang sekali kereta yang melintas.

What's on your mind