Enhancing Creativity Through Kites (Menggali Kreatifitas Melalui Layang-Layang)

No one knows for sure, when the first kites were made and use throughout the history. As mentioned in a record, the oldest special-function kites were made by Chinese people around 400 BC. Back then, kites were used in military service to measure existing distance between two armored troops during a war. There was nothing special on the shapes, mostly were square or rectangular shaped. The period between 1300-1700, the era of Ming and Qing dynasty, was the golden age of kites. During that period, kites developed rapidly in terms of technical process of making, material, as well as it’s shape and decoration. Kites had even once been a special handicraft commonly given as gift or present.

6

In Indonesia, kites are well known as traditional game. Commonly children play kites by competing each other. The winner is the one whose kite flies longest in the air, which is usually achived by battling to cut other’s threads. To do so, the skill of controlling the kites is highly required. Lately, the art of flying kites has shifted from pure competition to beat others into a competition of creativity, either in the type of kites, the shapes, or the decoration/motives. It is so related with the golden age of kites a few hundred years ago in China.

11

8

Some countries had even hold regular international kite festival. In Japan for example, several cities simultaneously hold the annual international kite festival. The event is named May The 5th Festival, as it’s take the date. Indonesia also has frequently national kite festival. One of them had just been held at Parangkusumo beach, Bantul, Yogyakarta, on October 9. For two days the participant –mostly coming from around Java and Bali- competed each other. Each showing off their creativity in in presenting the most beautiful kites. The competition certainly requires the skill of flying the kites against the strong wind blowing along the beach, as well as challenges the participants to attract the juries and audiences attention by presenting artistic and unique kites. The most stunning one was the dragon kite which length was extraordinary, about 100 meters. What an astonishing piece could have been made only with great patience and sense of art.

Regarding highly diversity of Indonesian tradition and culture-which may be a source of inspiration, it is wise decision that kite festival then considered as one of Indonesian’s main tourism assets.

9

7

The article has been published in Exposure magazine vol 41, December 2011 edition.

***

Tidak ada yang tahu pasti kapan layang-layang pertama kali dibuat dan digunakan dalam sejarah manusia. Namun sejauh ini sebuah catatan pernah menyebutkan bahwa layang-layang tertua yang mempunyai fungsi khusus (bukan sekedar mainan) adalah hasil karya bangsa Tionghoa sekitar abad 400 SM. Saat itu layang-layang digunakan dalam dunia militer yakni untuk mengukur jarak antara dua kelompok tentara saat perang Bentuknya pun masih sangat standar, yaitu bentuk persegi atau kotak, Hingga akhirnya layang-layang mencapai puncak kejayaanya di masa dinasti Ming dan Qing di tahun 1300-1700an.Di masa itu layang-layang mengalami perkembangan yang sangat pesat baik dalam hal teknik pembuatannya, material pembuatnya, maupun bentuk serta coraknya. Saking pesatnya, layang-layang menjadi kerajinan tersendiri dan menjadi semacam hadiah atau cinderamata.

5

3

Di Indonesia, layang-layang dikenal sebagai permainan tradisional. Anak-anak yang umumnya memainkan layang-layang akan berlomba satu sama lain. Yang menjadi pemenangnya adalah siapa yang layang-layangnya paling lama bertahan di udara dengan cara bertarung untuk saling memutuskan benang layang-layang lawannya. Disinilah letak keahlian mengendalikan layang-layangnya menjadi penentu. Belakangan mulai terjadi pergeseran seni bermain layang-layang yang semula hanya sekedar untuk berlomba saling menjatuhkan layang-layang lawan, berubah menjadi lomba kreativitas menciptakan kreasi seni jenis, bentuk dan corak layang-layang. Hal ini tidak bisa dilepaskan dengan masa keemasan layang-layang di negeri Cina yang terjadi beberapa ratus tahun sebelumnya.

12

Beberapa negara sudah terlebih dulu mengadakan festival layang-layang skala internasional. Di Jepang misalnya setiap tanggal 5 Mei selalu diadakan festival tahunan layang-layang internasional serempak di beberapa kota. Acaranya pun diberi nama festival Festival 5 Mei. Di Tanah Air, festival layang-layang skala internasional masih sangat jarang diselenggarakan. Namun untuk yang bersifat nasional beberapa festival dan lomba sudah cukup sering diadakan. Salah satunya yang diselenggarakan di pantai Parangkusumo, Bantul, Yogyakarta, 9 Oktober 2011. Selama 2 hari peserta yang umumnya dari Jawa dan Bali ini bertarung melalui unjuk kreativitas membuat layang-layang seindah mungkin. Bukan hanya keahlian mengendalikan layang-layang, namun yang lebih penting adalah bagaimana merebut simpati dewan juri dan penonton dengan menghasilkan layang-layang yang unik, dan cantik. Umumnya layang-layang dibuat bercorak tokoh kartun atau tokoh dalam cerita rakyat. Ada juga bentuk tiga dimensi berupa hewan, tokoh superhero atau bentuk kendaraan. Salah satu yang paling menyita perhatian adalah layang-layang bentuk naga yang panjangnya bisa mencapai 100 meter. Susah rasanya membayangkan ketekunan dan rasa seni yang begitu tinggi saat menciptakan layang-layang ini.

Dengan beragamnya tradisi dan budaya Nusantara yang dapat menjadi sumber inspirasi, tak salah jika festival layang-layang dijadikan salah satu ujung tombak wisata Indonesia.

1

2

 Artikel ini telah diterbitkan di majalah Exposure vol 41 edisi Desember 2011.

What's on your mind